Ramadhan Datang, Umat Bergembira—Namun Sudahkah Kita Siap?
IFP sebagai Jembatan Pembelajaran Abad 21 Berbasis Nilai Islam di SDIT Arrahmah
![]() |
| Ustadz Suwono sedang mengajar PJOK memanfaatkan IFP |
www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Opini | Hadirnya Interactive Flat Panel (IFP) yang difasilitasi oleh Kementerian Pendidikan telah menjadi salah satu bentuk nyata dalam menguatkan kualitas pembelajaran di SDIT Arrahmah. IFP bukan hanya dipandang sebagai perangkat teknologi, tetapi sebagai media strategis untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan, keterampilan abad 21, dan nilai-nilai keislaman dalam proses pembelajaran.
Para guru SDIT Arrahmah memanfaatkan IFP secara optimal sebagai sarana penunjang pembelajaran yang aktif, kreatif, dan bermakna. Materi pelajaran disajikan secara visual-interaktif, mulai dari presentasi tematik, video pembelajaran, simulasi sains, hingga penayangan ayat Al-Qur’an, hadits, dan kisah teladan yang relevan dengan materi. Hal ini menjadikan pembelajaran lebih kontekstual serta memudahkan peserta didik memahami hubungan antara ilmu dan nilai spiritual.
Dari sisi pedagogis, penggunaan IFP mendorong guru untuk mengembangkan pembelajaran yang berorientasi Higher Order Thinking Skills (HOTS). Siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi diajak menganalisis, berdiskusi, memecahkan masalah, dan menyampaikan pendapat secara percaya diri. Kolaborasi antara guru dan siswa terbangun lebih kuat, sejalan dengan visi SDIT Arrahmah dalam membentuk generasi yang cerdas, berakhlak, dan berdaya saing.
Lebih dari itu, pemanfaatan IFP di SDIT Arrahmah juga memperkuat internalisasi nilai-nilai Islam dalam pembelajaran. Guru dapat dengan mudah menautkan konsep akademik dengan nilai akhlak, adab belajar, serta keteladanan Rasulullah ﷺ. Teknologi pun menjadi wasilah kebaikan, bukan sekadar alat modernisasi, tetapi sarana pendidikan yang mendukung misi tarbiyah Islamiyah.
Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kementerian Pendidikan atas dukungan sarana pembelajaran berupa Interactive Flat Panel (IFP). Bantuan ini sangat berarti bagi SDIT Arrahmah dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi ruh pendidikan.
Semoga sinergi antara pemerintah dan satuan pendidikan ini terus berlanjut, serta menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam mencetak generasi sholeh, cerdas, dan siap menghadapi tantangan masa depan.***
Momen Istimewa Penerimaan Rapor : "Setiap anak istimewa dengan potensi masing-masing"
www.sditarrahmahlumajang.sch.id | Agenda Sekolah - Setiap akhir semester adalah momen istimewa, menjadi saat yang tepat untuk evaluasi diri dan muhasabah, baik bagi guru, murid, orang tua, dan juga sekolah secara umum.
PGRI dan Pergeseran Nilai Keanggotaan
www.sditarrahmahlumajang.sch.id | Opini - Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada mulanya lahir sebagai wadah pemersatu seluruh guru tanpa memandang status kepegawaian. Semangat perjuangannya adalah membela martabat pendidik dan memperjuangkan kesejahteraan guru sebagai profesi, bukan sebagai birokrat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul kegelisahan di tengah guru non-PNS/ASN. Mereka merasa keberadaannya tidak diakui dalam struktur PGRI di banyak daerah. Seolah-olah PGRI hanya menjadi rumah bagi guru yang berstatus PNS, sementara guru non-PNS hanya “tamu” atau bahkan tidak dianggap bagian dari keluarga besar pendidik.
Ketika organisasi guru mulai memisahkan hak dan ruang keterlibatan berdasarkan status kepegawaian, di saat itulah nilai dasar organisasi mulai bergeser. Guru honorer, guru yayasan, dan guru kontrak adalah pendidik yang menjalankan tugas yang sama, memikul tanggung jawab pendidikan yang sama, bahkan sering kali dengan beban lebih berat dan kompensasi jauh di bawah layak. Jika mereka tidak diberi ruang suara, hak menjadi pengurus, atau terlibat dalam pengambilan keputusan, maka secara moral PGRI telah menjauh dari ruh awal perjuangannya.
Jika PGRI hanya menjadi perangkat perlindungan bagi PNS/ASN, maka ia berubah fungsi: dari organisasi profesi menjadi organisasi birokratis. Padahal realitas pendidikan Indonesia tidak akan berjalan tanpa kontribusi besar guru non-PNS. Mengabaikan mereka sama saja mengabaikan sebagian besar wajah pendidikan nasional.
Sudah waktunya PGRI kembali menegaskan posisi dan orientasinya:
Bahwa guru adalah guru, bukan angka dalam sistem kepegawaian.
Bahwa perjuangan kesejahteraan harus mencakup semua pendidik, bukan sebagian.
Bahwa wadah profesi harus inklusif, bukan eksklusif.
Kekuatan PGRI justru terletak pada keberagaman anggotanya. Jika nilai ini kembali ditegakkan, maka PGRI akan menjadi rumah perjuangan yang utuh — bukan hanya simbol organisasi, tetapi suara dan pelindung bagi seluruh guru di Indonesia. *** (MNAI)
Inilah Alasan Mengapa Seorang Muslim Mencintai dan Membela Palestina
www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Dunia Islam | Seorang muslim membela dan mencintai Masjid Al-Aqsha dan Palestina karena berbagai alasan yang berakar kuat pada akidah (keyakinan), sejarah, ikatan persaudaraan dalam Islam, dan penegakan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Cinta ini bukanlah didasari oleh sentimen politik atau nasionalisme semata, melainkan perintah dan petunjuk dari Al-Qur'an dan hadits.
Berikut adalah alasan-alasan utamanya.
##Alasan Terkait Masjid Al-Aqsha
![]() |
| Titik tertinggi Masjid Al Aqsha |
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat menghadap Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Dan beliau lebih suka menghadap ke arah Ka’bah." (HR. Bukhari no. 399 & Muslim no. 525)
"Janganlah bersusah payah melakukan perjalanan (untuk beribadah) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasulullah (Masjid Nabawi), dan Masjid Al-Aqsha." (HR. Bukhari no. 1189 & Muslim no. 1397)
Palestina, yang merupakan bagian dari negeri Syam (mencakup Palestina, Suriah, Yordania, dan Lebanon), disebut sebagai tanah yang diberkahi.
1. Tanah yang Diberkahi Allah
2. Tanah Para Nabi
Banyak nabi yang lahir, hidup, berdakwah, dan dimakamkan di Palestina dan sekitarnya. Ini adalah tanah yang menjadi saksi perjuangan tauhid para utusan Allah, seperti Nabi Ibrahim, Ishaq, Ya'qub, Yusuf, Dawud, Sulaiman, Zakaria, Yahya, dan Isa 'alaihimussalam.
3. Tanah Perjuangan dan Akhir Zaman
Banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa negeri Syam, termasuk Palestina, akan menjadi pusat peristiwa penting di akhir zaman dan tempat berkumpulnya orang-orang beriman yang teguh.
"Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang memperjuangkan kebenaran dan mereka senantiasa menang (mendapat pertolongan Allah) atas orang-orang yang memusuhi mereka, hingga datang keputusan Allah (hari kiamat) sedangkan mereka tetap dalam keadaan demikian." Para sahabat bertanya, "Di manakah mereka wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Di Baitul Maqdis dan di sekitar Baitul Maqdis." (HR. Ahmad, hadits shahih)
Membela Palestina juga merupakan wujud dari kewajiban untuk peduli dan menolong sesama muslim yang sedang tertindas, di mana pun mereka berada.
1. Muslim adalah Bersaudara
Ikatan akidah menjadikan seluruh umat Islam sebagai satu keluarga besar yang harus saling merasakan penderitaan satu sama lain.
2. Umat Islam Bagaikan Satu Tubuh
Penindasan dan penderitaan yang dialami oleh rakyat Palestina adalah luka bagi seluruh umat Islam di dunia.
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan berbelas kasih adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan, tidak bisa tidur dan demam." (HR. Bukhari no. 6011 & Muslim no. 2586)
"Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."
Alinea keempat Pembukaan UUD 1945 menggariskan tujuan negara Indonesia, termasuk dalam hubungan internasional:
Secara ringkas, UUD 1945 mengamanatkan Indonesia untuk:
1. Menentang penjajahan dalam segala bentuknya di mana pun itu terjadi.
2. Mendukung hak kemerdekaan setiap bangsa tanpa terkecuali.
3. Berperan aktif dalam menciptakan perdamaian dan keadilan di tingkat global.
Alasan Kemanusiaan (A Call for Humanity)
Argumen ini berfokus pada penderitaan nyata yang dialami oleh manusia dan kewajiban moral untuk meresponsnya.
1. Perlindungan terhadap Warga Sipil yang Tidak Berdosa
Konflik yang berkepanjangan secara tidak proporsional telah memakan korban jiwa dari kalangan sipil, termasuk anak-anak, perempuan, dan lansia. Infrastruktur sipil yang vital seperti rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, dan kamp pengungsian sering kali menjadi sasaran atau terdampak serangan. Dari sudut pandang kemanusiaan, setiap nyawa sipil berharga dan harus dilindungi, terlepas dari kebangsaan atau agamanya.
2. Krisis Kebutuhan Dasar Manusia
Bertahun-tahun blokade dan pembatasan di wilayah seperti Gaza telah menciptakan krisis kemanusiaan yang parah. Jutaan orang hidup dengan akses yang sangat terbatas terhadap:
- Air bersih dan makanan: Keterbatasan pasokan menyebabkan kelaparan dan dehidrasi.
- Listrik dan bahan bakar: Mengganggu fungsi rumah sakit, sistem sanitasi, dan kehidupan sehari-hari.
- Layanan kesehatan: Sistem medis berada di ambang kehancuran akibat kekurangan obat-obatan, peralatan, dan serangan terhadap fasilitas medis.
Membela Palestina adalah membela hak setiap individu untuk mendapatkan kebutuhan dasar ini agar bisa bertahan hidup.
3. Dampak Trauma Lintas Generasi
Anak-anak Palestina tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan kekerasan, ketakutan, dan kehilangan. Mereka mengalami trauma psikologis mendalam yang akan terus membekas hingga dewasa dan bahkan diturunkan ke generasi berikutnya. Membela mereka adalah upaya untuk memutus siklus penderitaan ini dan memberikan harapan akan masa depan yang damai bagi generasi mendatang.
4. Menjaga Martabat Manusia
Pembatasan gerak melalui pos-pos pemeriksaan (checkpoint), penggusuran paksa dari rumah, dan perlakuan diskriminatif merampas martabat dan hak asasi manusia. Kemanusiaan mengajarkan kita untuk menentang segala bentuk perlakuan yang merendahkan dan tidak manusiawi terhadap siapa pun.
Alasan Keadilan (A Demand for Justice)
Argumen ini berlandaskan pada penegakan hukum internasional, hak asasi manusia, dan prinsip kesetaraan.
1. Menegakkan Hukum Internasional
Banyak lembaga internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), telah menyatakan bahwa beberapa tindakan yang terjadi di Palestina melanggar hukum internasional, seperti:
- Pendudukan militer (Military Occupation): Wilayah Palestina, termasuk Tepi Barat dan Gaza, diakui secara internasional sebagai wilayah pendudukan. Hukum humaniter internasional (seperti Konvensi Jenewa Keempat) mengatur secara ketat kewajiban kekuatan pendudukan untuk melindungi penduduk sipil.
- Pembangunan permukiman ilegal: Pembangunan permukiman di wilayah pendudukan dianggap ilegal menurut hukum internasional dan menjadi penghalang utama bagi solusi damai.
2. Melawan Penjajahan dan Mendukung Hak Menentukan Nasib Sendiri
Inti dari perjuangan Palestina adalah hak untuk menentukan nasib sendiri (right to self-determination), sebuah prinsip dasar dalam piagam PBB. Ini adalah hak suatu bangsa untuk secara bebas menentukan status politiknya dan mengejar pembangunan ekonomi, sosial, dan budayanya sendiri tanpa campur tangan eksternal. Mendukung Palestina adalah mendukung hak fundamental sebuah bangsa untuk merdeka dan berdaulat di tanah airnya sendiri.
3. Isu Ketidaksetaraan Sistemik dan Apartheid
Berbagai organisasi hak asasi manusia terkemuka di dunia, seperti Amnesty International dan Human Rights Watch, telah merilis laporan yang menyimpulkan bahwa kebijakan dan praktik terhadap warga Palestina memenuhi definisi hukum kejahatan apartheid. Ini merujuk pada sistem opresi dan dominasi rasial yang sistemik. Keadilan menuntut penolakan terhadap segala bentuk diskriminasi dan sistem yang menciptakan dua standar hukum dan hak yang berbeda untuk dua kelompok orang yang tinggal di wilayah yang sama.
4. Keadilan bagi Pengungsi
Jutaan warga Palestina hidup sebagai pengungsi di berbagai negara setelah terusir dari tanah mereka pada tahun 1948 (peristiwa yang dikenal sebagai Nakba) dan sesudahnya. Resolusi PBB 194 menegaskan hak mereka untuk kembali ke rumah mereka. Membela Palestina adalah memperjuangkan keadilan historis bagi para pengungsi yang telah puluhan tahun hidup dalam ketidakpastian.
Indahnya Silaturrahim, Jalan Menuju Surga dan Panjang Umur
![]() |
| Arsip SDIT Arrahmah : Foto anjangsana di rumah Ust. Wildan Hadi Wijaya |
www.sditarrahmahlumajang.sch.id, Lumajang - Silaturrahim adalah ajaran mulia dalam Islam. Ia bukan hanya mempererat hubungan antarmanusia, tapi juga menjadi sebab dibukanya pintu rezeki dan dipanjangkannya umur.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturrahim."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Allah juga menegaskan pentingnya silaturrahim dalam Al-Qur’an:
“...dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
(QS. An-Nisa: 1)
Siapa saja yang utama untuk disilaturrahimi?
1. Kerabat terdekat: orang tua, saudara kandung, paman, bibi, sepupu.
2. Guru dan sahabat lama.
3. Tetangga, teman dekat, dan sesama Muslim.
Tata cara bersilaturrahim supaya bernilai ibadah:
- Datang dengan niat baik dan wajah ramah.
- Menyapa, memberi kabar, atau hadiah.
- Membantu saat mereka butuh.
- Memaafkan bila ada kesalahan masa lalu.
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah berjalan jauh hanya untuk menyambung hubungan dengan seorang saudara seiman yang sempat berselisih dengannya. Ia berkata, “Aku lebih mencintai Allah daripada gengsiku.”
Sahabat Anas bin Malik r.a. berkata:
"Kami tidak melihat amalan yang paling mempercepat datangnya kebaikan dan menunda azab selain silaturrahim."
(HR. Ahmad)
Silaturrahim bukan sekadar berkunjung, tapi tentang kepedulian, saling mendoakan, dan menjaga kasih sayang. Apalagi di zaman sekarang, kita bisa bersilaturrahim melalui pesan, video call, dan lainnya.
Mari kita perkuat tali persaudaraan dan mempererat silaturrahim. Mulai dari orang tua, saudara, teman kerja, hingga tetangga sekitar. Semoga Allah memberikan keberkahan hidup karena silaturrahim yang kita jaga. (Humas)
Peran Guru, Orang Tua, dan Sekolah dalam Menyukseskan Pekan Asesmen Akhir Tahun
www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Akhir semester ini semua siswa pasti bersiap menghadapi Pekan Asesmen Akhir Tahun (PAT) atau istilah lain yang semisal dengan itu. Momen ini menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan pembelajaran siswa selama satu tahun terakhir. PAT bukan hanya ajang untuk mengukur capaian nilai semata, tetapi lebih dari itu: asesmen merupakan cerminan dari proses belajar, kerja keras, dan perkembangan anak didik dalam memahami ilmu dan keterampilan yang diajarkan.
Peran Guru dan Orang Tua: Mendampingi dengan Empati
Guru memegang peran strategis dalam membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi asesmen. Pendampingan belajar, pemberian latihan soal yang bermakna, serta motivasi yang membangun menjadi bagian dari ikhtiar menciptakan pengalaman asesmen yang positif. Lebih dari sekadar pengajar, guru adalah fasilitator yang membimbing siswa agar bisa merefleksikan sejauh mana mereka telah berkembang, bukan sekadar berapa nilai yang akan mereka peroleh.
Di sisi lain, orang tua pun memiliki peran yang tak kalah penting. Dukungan emosional, menyediakan lingkungan belajar yang nyaman di rumah, serta menunjukkan apresiasi terhadap usaha anak merupakan bentuk pendampingan yang sangat berarti. Ketika anak merasa didukung dan tidak dibebani tekanan berlebih, mereka akan menjalani proses belajar dan asesmen dengan lebih tenang dan percaya diri.
Mendidik Anak Memaknai Asesmen sebagai Proses Belajar
Anak-anak perlu diajak untuk memahami bahwa asesmen bukanlah momen untuk membandingkan diri dengan orang lain, melainkan kesempatan untuk melihat kembali sejauh mana mereka telah berprogres. Ini adalah waktu untuk merefleksikan apa yang telah mereka pelajari, apa yang mereka kuasai, dan apa yang masih perlu ditingkatkan. Dengan cara pandang seperti ini, asesmen bisa menjadi momen pembelajaran yang bermakna, bukan sekadar ajang mengejar angka.
Sekolah dan Orang Tua Menghargai Proses dan Hasil
Sekolah sebagai lembaga pendidikan diharapkan dapat menghargai setiap hasil yang diperoleh siswa, apapun bentuknya. Sebab, di balik setiap angka atau capaian, terdapat proses panjang berupa usaha, semangat, dan perjuangan anak. Tidak semua keberhasilan terlihat dalam bentuk nilai tinggi — kadang keberanian mencoba, kemampuan mengatasi kesulitan, atau peningkatan kecil dari waktu ke waktu justru lebih berarti.
Begitu pula orang tua, penting untuk menunjukkan penghargaan terhadap jerih payah anak selama satu tahun pembelajaran. Memberikan apresiasi bukan hanya saat anak mendapat nilai tinggi, tetapi juga saat mereka telah berusaha dengan sungguh-sungguh, akan membentuk kepercayaan diri dan semangat belajar anak ke depannya.
Penutup
Pekan Asesmen Akhir Tahun bukan hanya tentang nilai, tapi tentang makna dan proses belajar yang telah ditempuh oleh setiap siswa. Dengan peran aktif guru, dukungan hangat orang tua, dan apresiasi yang tulus dari sekolah, asesmen bisa menjadi pengalaman yang mendidik dan menginspirasi. Mari kita bersama-sama mendampingi anak-anak menjalani momen ini dengan penuh makna, sebagai bagian dari perjalanan panjang mereka menjadi pembelajar sejati.
Hari Kartini dan Refleksi Peran Mulia Wanita dalam Dakwah dan Pendidikan Anak
www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan hak dan peran perempuan, terutama dalam bidang pendidikan. Namun, dalam konteks kehidupan muslimah, momen ini juga menjadi refleksi penting akan peran wanita dalam dakwah dan sebagai ibu pendidik generasi penerus bangsa.
Islam memuliakan wanita dan memberikan ruang yang luas untuk berkontribusi dalam dakwah. Sejak zaman Rasulullah ﷺ, wanita-wanita mulia telah memainkan peran penting dalam menyebarkan Islam. Sebut saja Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah ﷺ, yang menjadi pendukung utama dakwah beliau sejak awal. Ia bukan hanya istri, tapi juga mitra perjuangan.
Allah SWT berfirman:
"وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ..."
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar...”
(QS. At-Taubah: 71)
Ayat ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab yang sama dalam amar ma’ruf nahi munkar, termasuk dalam peran dakwah di lingkungan masyarakat maupun keluarga.
Peran wanita juga sebagai ibu memiliki posisi yang sangat strategis dalam membentuk karakter anak. Rasulullah ﷺ bersabda:
"كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ..."
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menggarisbawahi pentingnya peran orang tua, terutama ibu, dalam membentuk dan mendidik anak. Ibulah madrasah pertama yang menanamkan nilai-nilai Islam, akhlak mulia, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dalam banyak kisah para ulama, seperti Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, peran ibu mereka sangat besar dalam membentuk karakter ilmuwan dan pejuang dakwah. Ini menjadi bukti bahwa wanita memiliki kekuatan luar biasa dalam melahirkan dan mendidik generasi peradaban.
Memperingati Hari Kartini bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi juga menjadi momentum untuk menyadari kembali peran agung wanita dalam Islam—baik dalam ranah publik sebagai da’iyah (pendakwah), maupun dalam ranah domestik sebagai ibu yang mendidik dengan cinta dan nilai-nilai Islam.
Wanita muslimah tidak hanya layak diberi akses pendidikan, tapi juga diberi ruang untuk berkontribusi aktif dalam kebaikan, membina keluarga, masyarakat, bahkan turut membangun bangsa—dengan tetap menjaga nilai-nilai syar’i yang menjadi kehormatan mereka.
R.A. Kartini telah membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk berkembang. Islam telah lebih dahulu memuliakan mereka sejak lebih dari 14 abad lalu. Maka, mari jadikan Kartini masa kini sebagai sosok muslimah yang cerdas, lembut, tangguh, berakhlak mulia, dan mampu menjadi teladan dalam dakwah serta madrasah terbaik bagi anak-anaknya.
“Didiklah anak-anakmu, karena mereka adalah generasi masa depan yang akan memimpin dunia.”
(/Humas)
Selamat Tinggal Ramadhan yang Penuh Kemuliaan, Selamat Datang Syawal yang Membawa Perubahan
www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Pernahkah kita merenungkan mengapa Allah mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan?
Terlintaskah dalam hati kita apa maksudnya Allah memberi kesempatan kepada kita merasakan Ramadhan?
Benarkah hanya kebetulan saja kita masih melihat Ramadhan tahun ini, padahal Allah telah bersumpah dalam Surat At-Thalaq ayat 3,
قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
"Sungguh Allah telah menjadikan segala sesuatunya menurut rencana (takdir)"
Jadi bukan karena kebetulan Allah memilih kita untuk mendapat pendidikan dari Ramadhan, saat sebagian hamba-Nya yang lain tidak mungkin lagi mendapatkannya selama-lamanya, karena mereka telah tutup usia.
Lalu apakah rencana Allah tersebut? Saksikanlah jawabannya yang begitu lembut ini dalam Surat Al-Baqarah ayat 268,
وَاللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا
"Allah menjanjikan untukmu ampunan dari-Nya dan berbagai tambahan (fadhilah)"
Betapa Pemurahnya sifat Allah yang digambarkan dalam ayat tersebut. Allah hanya ingin mengampuni dosa-dosa kita, dan Allah ingin kita menjadi manusia yang semakin bertambah.
Apanya yang bertambah? Salah satunya adalah ibadah yang bertambah. Iya, mari kita sadari bahwa Dia Yang Menciptakan kita, begitu ingin melihat ibadah kita bertambah setelah Ramadhan ini.
Karena itu mari kita bangun impian agar Syawal ini menjadi langkah awal. Tidak perlu bertambah sampai sempurna, yang penting bertambah secara kualitas maupun kuantitas dibandingkan sebelumnya.
Taqobbalallahu minna wa minkum, Taqobbal Yaa Kaariim.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H,
Mohon maaf Lahir dan Batin.
Lebaran Saatnya Sambung Rasa Dengan Sesama
www.sditarrahmahlumajang.sch.id -Dilansir Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Lebaran berarti hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan.
Ada empat arti Lebaran menurut bahasa Jawa, Betawi, Sunda, dan Madura. Dalam bahasa Jawa, kata 'Lebaran' berasal dari kata "wisbar" yang berarti sudah selesai (dalam hal ini sudah selesai menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan). Kata "bar" sendiri merupakan bentuk pendek dari kata "lebar" yang artinya selesai dalam bahasa Jawa.
Sedangkan oleh orang Betawi kata 'Lebaran' dimaknai berbeda. Kata 'Lebaran' berasal dari kata "lebar" yang bisa diartikan luas atau merupakan gambaran keluasan hati setelah menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan, dan kegembiraan saat hari kemenangan tiba.
Kemudian dalam bahasa Sunda, kata 'Lebaran' berasal dari kata "lebar" yang artinya melimpah. Lalu dalam bahasa Madura, kata dasar 'Lebaran" adalah dari kata "lober" yang berarti tuntas.
Makna Lebaran
Dilansir laman resmi Kemenkeu berikut 5 penguraian makna 'Lebaran', yaitu:
- Lebaran bermakna, di hari raya kita perlu lapang dada. Sifat lapang dada merupakan sifat untuk meminta dan memberi maaf kepada sesama.
- Lebaran bermakna luberan, artinya meluber atau melimpah. Yang bisa diartikan melewati batas daripada batas yang sudah ditentukan. Seperti luber maafnya, luber rezekinya dan lain-lain. Oleh karena itu luberan berubah menjadi Lebaran.
- Lebaran bermakna laburan, dalam bahasa Jawa artinya mengecat. Sebab kebiasaan orang Indonesia dalam menyambut hari raya, adalah dengan mengecat rumah supaya tampak indah. Dari kebiasaan laburan inilah, Lebaran menjadi kata yang kerap digunakan dan disandingkan dengan Idul Fitri.
- Lebaran bermakna leburan. yang dalam bahasa Jawa berarti menyatukan. Artinya, diharapkan selepas Ramadan kita mampu meleburkan diri kita kepada sifat-sifat Tuhan. Contohnya dengan sabar ketika diterpa ujian.
- Lebaran merupakan plesetan dari liburan. Di kalender nasional, hari raya Idul Fitri adalah tanggal merah yang merupakan hari libur. Sebab itu muncul ucapan yang berulang kali diucapkan. menjadi awal munculnya istilah Lebaran.
Dari semua makna lebaran, ada yang berkesan untuk kita renungkan, bahwa lebaran adalah saatnya untuk sambung rasa dengan sesama, terutama dengan kerabat dekat, tetangga, teman, dan tentunya dengan sesama manusia.
Kiranya tidak berlebihan jika kita sambungkan dengan hadits berikut ini:
“Mukmin itu mudah akrab dan enak diakrabi. Dan tidak ada kebaikan pada orang yang tidak suka mengakrabi, tak nyaman pula diakrabi.” (HR Ahmad, Al Hakim, dan Al Baihaqi dari Abu Hurairah).
Imam Al Munawi memberikan penjelasan hadits ini dengan,
“Mudah akrab dan enak diakrabi karena kebaikan akhlaqnya, kemudahan wataknya, dan kelembutan perangainya.”
Sebaliknya, tidak ada kebaikan pada orang yang susah akrab, “Karena lemah imannya, keras hatinya, dan kejam perangainya.”
Tempatkanlah orang lain pada posisi terhormat dalam akal dan hati kita. Bangunlah hubungan yang baik dengan tepat, gunakan empati dan berkomunikasilah sesuai konteks. Karena hal-hal yang dapat diterima di suatu tempat, bisa jadi justru dianggap tidak sopan (tidak patut) di tempat lain.
Simak dengan sungguh-sungguh apa yang orang lain katakan, sopan dan hormat, tdak memotong kata-katanya, dan menangkap pesan-pesan yang disampaikan baik melalui ucapan maupun isyarat lainnya.
Dengan demikian, mari kita jadikan Lebaran tahun ini bukan sekedar tradisi tahunan, melainkan momen berharga untuk mempererat tali persaudaraan dan menciptakan kenangan indah yang akan selalu dikenang.
Mari jadikan setiap percakapan bermakna, setiap perjumpaan penuh arti, agar Lebaran tahun ini meninggalkan kesan mendalam di dalam hati. Kata orang Jawa itulah yang disebut "Sambung Rasa".
Selamat merayakan Lebaran, 1 Syawal 1446 H.
Taqobbalallahu minna wa minkum.
Semoga Allah menerima amal kita semua. Aamiin.
SEJARAH KODIFIKASI AL-QUR'AN
Kapan Awal Puasa Ramadhan 2025? Jadwal Versi Pemerintah, NU dan Muhammadiyah
www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Bulan Ramadhan 2025 sudah di depan mata, dan umat Islam di Indonesia pun menanti kepastian kapan 1 Ramadhan 1446 H akan dimulai. Kapan pastinya awal Ramadhan 2025?
Seperti tahun-tahun sebelumnya, penentuan awal puasa ini dilakukan melalui metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit) yang dilakukan oleh pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah. Perbedaan metode ini sering kali menghasilkan perbedaan awal puasa di Indonesia.
Awal Puasa Ramadhan 2025 Versi Pemerintah
Hingga saat ini, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) belum secara resmi menetapkan tanggal 1 Ramadhan 1446 H. Seperti tahun-tahun sebelumnya, penentuan awal Ramadhan dilakukan melalui sidang isbat yang digelar menjelang akhir bulan Syaban. Sidang ini menjadi acuan bagi mayoritas umat Islam di Indonesia dalam menentukan awal puasa.
Sidang isbat menggabungkan dua metode utama, yaitu rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit muda) dan hisab (perhitungan astronomi). Pengamatan hilal dilakukan di berbagai titik di seluruh Indonesia dengan melibatkan ahli falak, organisasi Islam, serta berbagai instansi terkait seperti BMKG dan BRIN. Jika hilal teramati sesuai kriteria yang telah ditentukan, maka 1 Ramadhan akan diumumkan pada hari itu juga. Jika tidak, bulan Syaban akan digenapkan menjadi 30 hari.
Menurut kalender Hijriah yang diterbitkan Kemenag, 1 Ramadhan 1446 H diperkirakan akan jatuh pada 1 Maret 2025. Namun, kepastian tanggalnya masih menunggu hasil sidang isbat. Mengingat potensi perbedaan awal Ramadhan antara berbagai organisasi Islam di Indonesia, Kemenag juga mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga toleransi dan menghormati perbedaan dalam pelaksanaan ibadah puasa.
Awal Puasa Ramadhan 2025 Versi Nahdlatul Ulama (NU)
Nahdlatul Ulama (NU) belum mengumumkan secara resmi kapan 1 Ramadhan 1446 H dimulai. Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU biasanya mengikuti hasil sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag). Dalam menentukan awal bulan hijriah, NU mengandalkan metode rukyatul hilal bil fi'li, yaitu pengamatan langsung terhadap hilal (bulan sabit pertama) di berbagai titik pemantauan yang telah ditentukan.
NU akan menunggu hasil sidang isbat yang dilakukan pemerintah sebelum menetapkan awal puasa Ramadhan 2025. Jika hilal berhasil terlihat sesuai dengan kriteria imkanur rukyat (kemungkinan terlihatnya hilal) yang berlaku, maka awal Ramadhan akan ditetapkan berdasarkan hasil pengamatan tersebut. Namun, jika hilal tidak terlihat, NU akan mengikuti ketentuan istikmal, yaitu menyempurnakan bulan Syaban menjadi 30 hari.
Sebagai tambahan, NU juga aktif dalam memberikan panduan ibadah selama bulan Ramadhan melalui berbagai program dakwah dan kajian keislaman. Selain itu, NU mengimbau umat Islam untuk tetap menjaga ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim) dalam menyikapi kemungkinan adanya perbedaan penetapan awal Ramadhan antara berbagai organisasi Islam di Indonesia.
Awal Puasa Ramadhan 2025 Versi Muhammadiyah
Berbeda dengan Nahdlatul Ulama (NU) yang menggunakan metode rukyatul hilal, Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadhan dengan metode hisab hakiki wujudul hilal. Metode ini tidak bergantung pada pengamatan langsung terhadap hilal, tetapi berdasarkan perhitungan astronomi yang memastikan bahwa hilal sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam. Jika hilal sudah memenuhi syarat visibilitas berdasarkan perhitungan ini, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan hijriah.
Berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025, awal Ramadhan 1446 H diperkirakan jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025. Selain itu, Muhammadiyah juga telah menetapkan bahwa Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal 1446 H akan jatuh pada Senin, 31 Maret 2025.
Penetapan awal Ramadhan dan Idul Fitri oleh Muhammadiyah biasanya diumumkan jauh-jauh hari agar umat Muslim, khususnya warga Muhammadiyah, dapat mempersiapkan ibadah dengan lebih baik. Meskipun terdapat perbedaan metode penentuan awal bulan hijriah dengan organisasi Islam lain, Muhammadiyah tetap menghimbau agar umat Islam menjaga persatuan dan saling menghormati dalam menyikapi potensi perbedaan jadwal puasa dan Idul Fitri.
Mengapa Penetapan Awal Puasa Ramadhan di Indonesia Sering Berbeda?
Di Indonesia, perbedaan dalam penentuan awal bulan Ramadhan antara pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah kerap terjadi. Hal ini disebabkan oleh perbedaan metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan hijriah.
Pemerintah dan NU menggunakan metode rukyatul hilal, yaitu mengamati hilal secara langsung setelah matahari terbenam pada tanggal 29 Syaban. Jika hilal belum terlihat, maka bulan Syaban digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), sehingga awal Ramadhan dimulai keesokan harinya. Sementara itu, Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yang mengandalkan perhitungan astronomi tanpa memerlukan pengamatan langsung. Jika menurut hisab hilal sudah berada di atas ufuk meskipun belum dapat dilihat, maka keesokan harinya sudah dianggap sebagai awal bulan hijriah.
Dalam beberapa tahun terakhir, perbedaan penetapan awal Ramadhan sudah beberapa kali terjadi di Indonesia. Ada kalanya Muhammadiyah memulai puasa lebih awal, sementara pemerintah dan NU menunggu hasil sidang isbat yang bergantung pada hasil pengamatan hilal. Meski demikian, perbedaan ini tetap dihormati dan sudah menjadi bagian dari dinamika umat Islam di Indonesia.
Kepastian Awal Ramadhan 2025
Dikutip dari laman Kementerian Agama (Kemenag), pemerintah akan melaksanakan pemantauan hilal atau rukyatulhilal untuk menentukan awal Ramadan 1446 Hijriah pada 28 Februari 2025. Pemantauan ini akan dilakukan serentak di 125 titik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Kegiatan rukyatulhilal melibatkan para ahli falak dari Kantor Wilayah Kemenag dan Kemenag Kabupaten/Kota. Selain itu, pemantauan juga bekerja sama dengan Pengadilan Agama, organisasi Islam, serta berbagai instansi terkait lainnya.
"Rukyatulhilal awal Ramadan akan dilakukan di 125 lokasi di seluruh Indonesia pada 28 Februari mendatang," ungkap Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, dalam keterangannya di Jakarta.
Jadwal Sidang Isbat 1 Ramadhan 2025
Dari informasi yang didapat di laman Kemenag, sidang isbat akan dilaksanakan dengan rincian berikut :
Acara : Sidang Isbat Penetapan Awal Ramadhan 1446 H
Tanggal : Jumat, 28 Februari 2025
Waktu : pukul 17.00 WIB sampai selesai
Tempat : Auditorium H.M Rasjidi Kementerian Agama, Jl. M.H. Thamrin, Jakarta Pusat
Sidang ini akan dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan dari duta besar negara sahabat, Ketua Komisi VIII DPR RI, Mahkamah Agung, serta Majelis Ulama Indonesia (MUI). Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), serta Planetarium Jakarta juga turut serta dalam pembahasan.
Tak hanya itu, para pakar ilmu falak dari organisasi masyarakat Islam, anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag, serta perwakilan pondok pesantren juga akan berpartisipasi dalam sidang ini.
Sidang isbat merupakan bentuk kolaborasi antara Kemenag, organisasi Islam, serta berbagai lembaga terkait dalam menetapkan awal bulan Hijriah. Keputusan yang dihasilkan diharapkan menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah Ramadhan.
Demikian informasi lengkap tentang awal puasa Ramadhan 2025. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan!
SEBUAH PELAJARAN KECIL DARI SUATU PERISTIWA BESAR
Malaikat Jibril membelah dada sang Rasul, membilas dengan air zam-zam, kemudian menambahkan iman dan hikmah pada diri Rasulullah.
Jadi tujuan pembelahan dada ini untuk memberikan iman dan hikmah dari Allah, yang dibawa oleh malaikat Jibril. Itulah sebabnya mengapa sebelumnya dibilas dengan zam-zam, karena iman dan hikmah ini adalah anugerah yang sangat bersih dan murni dari Allah.
Tentu saja hati Rasulullah sudah jernih sejak awal. Namun karena anugerah yang akan diterima ini lebih bersih lagi, maka hati sang Baginda pun dicuci kembali agar setara kemurnian di antara keduanya.
Apa pelajaran yang dapat kita petik? Yaitu sesuatu yang bersih, hanya dapat diterima oleh yang bersih pula.
Mari kita ambil contoh dalam hal ilmu. Setiap mukmin yang ingin menerima ilmu dengan pemahaman yang baik, hendaknya membersihkan hati ketika belajar di hadapan gurunya. Peribahasa Arab berujar,
فالعلم جوهر لطيف لا يصلح الا للقلب النظيف
“Ilmu adalah permata yang terang. Tidak akan diterima kecuali pada hati yang cemerlang.”
Contoh yang lain kita dapati dalam hal doa. Ketika seseorang mendoakan kebaikan kepada saudaranya, terkadang doa tersebut seperti tidak berpengaruh apapun. Bisa jadi, orang yang didoakan itu dalam keadaan belum menjaga kebersihan hatinya.
Karena doa adalah anugerah yang bersifat suci, maka tidak akan diterima kecuali pada hati yang terpuji.
Saya mengenal seorang ibu yang salehah. Beliau senantiasa menyebut nama putra-putrinya satu persatu dalam doa tahajudnya. Tanpa terkecuali mereka semua didoakan dengan kesuksesan dan kebahagiaan.
Sebagian anak-anaknya tampak beroleh kejayaan dan keberkahan dalam usahanya. Namun sebagian lagi, tampak masih belum merasakan manfaat doa sang bunda.
Gerangan apakah sampai demikian? Bisa jadi, yang sebagian lagi tersebut masih belum memantaskan diri dengan kebersihan hati agar dapat menerima doa.
Oleh karena itu, hendaklah hari-hari yang kita lalui senantiasa kita pergunakan untuk menyempurnakan akhlak dan memperbaiki hati.
Sungguh banyak doa terucap dari lisan tulus orang tua kita, dari lisan jujur guru-guru kita, bahkan dari anak-anak yatim dan kaum fakir yang kita derma. Sayang sekali jika doa-doa tersebut kurang berarti karena diri kita yang tidak pantas menerima.
Karena sesuatu yang bersih, hanya dapat diterima oleh yang bersih pula.
Sejarah Hari Kebangkitan Teknologi Nasional
www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Hari kebangkitan teknologi nasional atau biasa disebut Hakteknas diperingati setiap tanggal 10 Agustus. Secara historis, penetapan Hakteknas merujuk pada keberhasilan IPTN dalam melaksanakan terbang perdana (first flight) pesawat N250 Gatotkaca pada tanggal 10 Agustus 1995. Atas keberhasilan first flight tersebut, beberapa organisasi kemasyarakatan, antara lain dari Persatuan Islam dan Persatuan Insinyur Indonesia hingga Komisi X DPR RI mengusulkan kepada pemerintah agar 10 Agustus dicanangkan sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional. Pemerintah selanjutnya mengeluarkan Keputusan Presiden RI nomor 71 tahun 1995 yang menetapkan tanggal 10 Agustus sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.
![]() |
| Habibie dengan Pesawat hasil karyanya di IPTN |
Upaya peluncuran pesawat karya putera-puteri Indonesia menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan teknologi dan kedirgantaraan Indonesia. Pada tahun 1983, Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) meluncurkan CN-235. Pesawat CN-235 diberi nama “Tetuko” yang tidak lain merupakan nama kecil dari Gatotkaca ketika masih ditempa di Kawah Candradimuka. Pembuatan pesawat CN-235 awalnya merupakan kerja sama antara IPTN dengan perusahaan pesawat terbang Spanyol Construcciones Aeronautica SA atau CASA (Airbus Defence and Space) dengan skala 50:50 untuk permodalan, produksi, dan pemasaran. Keunggulan lain dari pesawat buatan dalam negeri ini juga dirancang untuk bisa lepas landas dan mendarat di landasan pendek.
Pasca keberhasilan dalam pembuatan pesawat CN-235, IPTN kembali mengembangkan sebuah rancangan pesawat baru. IPTN mulai membuat rancang bangun dan memproduksi sendiri model pesawat terbang baru dengan teknologi mutakhir. Untuk mencapai tahapan ini, Habibie pada 1989 mempersiapkan program N-230, yang akhirnya disempurnakan menjadi program N250 pada tahun 1992. Inilah program yang menghasilkan pesawat terbang model N250 bermesin 2 turboprop GMA-2500 yang mampu mengangkut 50 penumpang. Pesawat N250 memiliki kecepatan maksimal 610 km/jam serta memiliki ketinggian jelajah 25.000 kaki (7.629 meter) serta daya jelajah 1.480 km.
Pesawat N250 selanjutnya diterbangkan untuk pertama kali pada tanggal10 Agustus 1995. Pada penerbangan petama N250, Presiden Soeharto, Ibu Tien Soeharto, Wakil Presiden Try Sutrisno, dan Ibu Tuti Try Sutrisno turut serta menyaksikan first flight N250. Pesawat N250 juga merupakan hadiah bagi HUT Kemerdekaan Indonesia ke-50. Penetapan Hakteknas dapat dimaknai sebagai upaya meningkatkan semangat kreativitas dan inovasi teknologi untuk kemajuan bangka di bidang iptek.
Sumber
: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/muspres/sejarah-hari-kebangkitan-teknologi-nasional/
TAATLAH KEPADA ALLAH, RASULULLAH, DAN ULIL AMRI
www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Alkisah ada sebuah desa yang penduduknya mencari makan dengan cara memancing di sungai. Tiba-tiba entah datang dari mana, sekumpulan buaya menyerbu sungai itu. Para predator yang tidak diketahui berapa jumlahnya itu memangsa para pemancing.Kepala desa lantas mendapat saran dari segenap ahli agar melarang penduduk turun ke sungai untuk sementara waktu. Hal ini mengakibatkan buaya-buaya itu kelaparan dan mereka naik ke daratan.
Setelah berada di atas darat, tentu menjadi mudah bagi para penangkap reptil untuk menjerat mereka semua. Kini desa tersebut kembali aman, karena para penduduk disiplin mengikuti arahan sang kepala desa.
Kisah di atas adalah analogi sederhana dalam menghadapi pandemi Covid-19. Jika warga masih berada di ruang publik, sang virus yang tidak diketahui jumlahnya itu akan terus memangsa para warga.
Maka Kepala Daerah menghimbau agar penduduknya tidak turun ke ruang publik untuk sementara waktu. Hal ini mengakibatkan virus-virus tersebut bisa terdeteksi.
Setelah terdeteksi, tentu menjadi mudah bagi para dokter untuk mengobati pasien yang terpapar Covid-19 hingga sembuh. Kini daerah tersebut kembali aman, karena para penduduk disiplin mengikuti arahan dari Kepala Daerah.
Metode mengendalikan pandemi Covid-19 ini datang dari para ahli di bidangnya. Bukan sekedar teori, bahkan sudah dibuktikan oleh negara-negara tetangga kita yang mengalami hal ini lebih dulu.
Oleh karena itu, mari kita kompak untuk mematuhi anjuran Kepala Daerah masing-masing. Karena mereka juga mendapat saran dari pakar yang memang memiliki kompetensi di bidang epidemiologi.
إِذَا وُسِدَ الأَمْرُ إلى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
“Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya."
(Hadist Riwayat Bukhari)
Yang paling penting, perbanyak doa dan taubat kepada Allah. Muhasabah diri betapa banyaknya kelalaian kita di hadapan Allah. Dan jangan lupa agar memohon keselamatan bukan hanya untuk pribadi, tapi untuk seluruh kaum muslimin di negeri ini.
Fatwa Tentang Penyelenggaraan Ibadah Selama Ada Wabah Covid-19
APA PILIHAN ANDA?
Misalnya, Rasulullah senantiasa mengajak masuk agama Islam kepada semua paman dan bibinya satu persatu tanpa kecuali. Meski mendapat ajakan yang sama dari Rasul, tetapi pilihan para paman beliau berbeda-beda.
Karena manusia bebas menentukan pilihannya sendiri. Tak ada yang mengikatnya.
Dua contoh berikut sudah cukup mewakili, yaitu Pamanda Hamzah dan Pamanda Abdul Uzza. Keduanya sama-sama paman kandung dari pihak ayah. Bedanya, Pamanda Hamzah memilih untuk masuk Islam, sedangkan Pamanda Abdul Uzza memilih untuk menolak Islam.
Manusia memang bebas memilih. Tetapi tidak bebas dari menanggung konsekuensi pilihannya itu.
Saat Pamanda Hamzah memilih Islam, konsekuensinya beliau harus berjuang bersama Rasulullah. Tetapi perjuangan itu tak sia-sia, akhirnya beliau syahid dalam Perang Badar dan diberi gelar Sayyidus Syuhada.
Sedangkan Pamanda Abdul Uzza memilih untuk tetap dalam kemusyrikan, konsekuensinya ia harus terus memusuhi Nabi. Hingga akhirnya ia mati dalam keadaan terhina bahkan divonis celaka oleh Al-Quran surat Al-Lahab. Paman inilah yang kelak diberi gelar Abu Lahab.
Jadi perlu ditekankan sekali lagi, bahwa kita bebas menentukan pilihan. Tetapi selanjutnya tak bebas lagi. Kita terikat untuk menerima konsekuensi pilihan kita sendiri. Tak ada orang yang bisa menghindar dari konsekuensinya. Seperti yang dikatakan orang-orang Barat,
You are free to choose, but you are not free from the consequence of your choice.
Contohnya begini. Pada tahun ini kita bebas memilih apakah mau berubah menjadi pribadi yang lebih disiplin dan pekerja keras, atau tetap sebagai orang yang bersantai-santai sepanjang hari.
Jangan lupa selanjutnya kita tidak bebas lagi menanggung konsekuensi dari apa yang kita pilih. Jika memutuskan untuk berubah, banyak pengorbanan yang harus kita tempuh. Tetapi kelak semua yang kita korbankan akan membuahkan hasil.
Jika menolak untuk berubah, segalanya akan tetap nyaman seperti selama ini. Tetapi sebenarnya diri kita semakin tertinggal dan terlindas.
Hal yang sama juga berlaku bagi mereka yang mendapat kesempatan untuk merancang peraturan bagi kepentingan orang banyak.
Mereka bebas memilih, apakah peraturan yang dihasilkan untuk memuliakan nilai-nilai Islam atau justru membuat peraturan untuk memadamkan cahaya Allah? Tetapi ingat, mereka tak akan bisa menghindar dari konsekuensinya.
مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ
“Sebagian dari kamu ada orang yang menghendaki dunia dan sebagian dari kamu ada orang yang menghendaki akhirat.”
(Ali-Imran: 152)
Sumber : @arafat_channel



















