www.sditarrahmahlumajang.sch.id | Opini - Setiap kali bulan Ramadhan menjelang, ada getaran bahagia yang terasa di tengah umat Islam. Masjid mulai dibersihkan, jadwal kajian disusun, grup keluarga ramai membahas buka bersama, dan media sosial dipenuhi ucapan “Marhaban ya Ramadhan”. Tahun ini, Ramadhan 1447 H kembali hadir sebagai tamu agung yang selalu dinanti—bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.
Kegembiraan menyambut Ramadhan sejatinya adalah tanda iman. Rasulullah ﷺ sendiri menumbuhkan rasa bahagia itu kepada para sahabat dengan kabar gembira:
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kepada kalian berpuasa di dalamnya. Dibukakan pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.”
(HR. Ahmad dan An-Nasa’i)
Namun, di balik gegap gempita penyambutan Ramadhan, ada satu pertanyaan penting yang layak kita renungkan bersama: apakah kegembiraan itu benar-benar berujung pada perubahan diri dan sosial, atau hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa makna mendalam?
Tidak bisa dimungkiri, hampir setiap Ramadhan kita sering terjebak pada sisi simbolik dan seremonial. Semangat ibadah meningkat, tetapi tidak selalu diiringi dengan peningkatan akhlak. Masjid penuh saat tarawih, namun lisan masih mudah menyakiti. Puasa ditunaikan, tetapi kejujuran dan empati sosial justru menipis.
Bahkan, ironi kerap terjadi: harga kebutuhan pokok melonjak, konsumerisme meningkat, dan Ramadhan menjadi bulan paling “boros”, bukan paling sederhana.
Kegembiraan menyambut Ramadhan pun terkadang lebih dominan dalam bentuk euforia—dekorasi, konten digital, dan acara seremonial—namun kurang disertai kesungguhan mempersiapkan hati, memperbaiki hubungan, dan membersihkan niat.
Ramadhan 1447 H seharusnya menjadi momentum koreksi bersama. Kegembiraan menyambutnya perlu diiringi dengan kesiapan ruhani dan tanggung jawab sosial.
Pertama, menggeser fokus dari seremonial ke substansi. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi melatih pengendalian diri, kejujuran, dan kepedulian. Kedua, menjadikan Ramadhan sebagai bulan empati sosial, bukan konsumsi berlebih. Kepedulian kepada fakir miskin, tetangga, dan sesama harus menjadi wajah utama Ramadhan. Ketiga, membangun kesinambungan pasca-Ramadhan, agar nilai-nilai kebaikan tidak berhenti saat takbir Idulfitri berkumandang.
Kegembiraan menyambut Ramadhan adalah anugerah. Namun kegembiraan sejati bukan hanya saat Ramadhan datang, melainkan ketika Ramadhan benar-benar tinggal dalam diri kita—membentuk pribadi yang lebih bertakwa, jujur, dan peduli.
Semoga Ramadhan 1447 H tidak hanya kita sambut dengan senyum dan ucapan, tetapi dengan kesungguhan untuk berubah. Karena Ramadhan bukan sekadar bulan yang datang dan pergi, melainkan madrasah kehidupan yang menentukan arah kita setahun ke depan. Selamat menyambut Ramadhan!! 🌙✨

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah memberikan masukan