Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Materi Parenting “Ketulusan Orang Tua adalah Kunci Kesuksesan Anak (Oleh : Bunda Ima Rismawati)

Wali murid antusisa mengikut seminar Parenting bersama Bunda Ima


www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Berikut ini rangkuman materi yang disampaikan oleh Bunda Ima Rismawati, S.Pd. pada seminar parenting yang dilaksanakan oleh SDIT Arrahmah pada hari Jum'at, 19 September 2025 di Masjid Asy-Syafi'iyyah Tukum. 

Simak yuk!

---

Alhamdulillah sampai saat ini Allah masih memberi kesempatan emas pada kita untuk membersamai anak-anak. Pertanyaan nya sudah kah kita membersamai anak-anak yang ketulusan kita?


Anak bukan milik kita sepenuhnya. Mereka punya Robb. Anak-anak harusnya kita bimbing sebagai aset akherat kita. Anak-anak adalah titipan dan harapan masa depan. Maka kita harus menjaga mereka dengan sebaik-baiknya, agar pemilik mereka yaitu Robb kita tidak  murka.


Hal hal sepele tapi bernilai pahala karena  kita melaksanakan sunnah Rosul, misal masuk kamar mandi kaki kiri, sunah sederhana di laksanakan oleh anak-anak akan berdampak sampai dewasa. 

Sekedar peluk anak, jika tidak ada ketulusan atau cinta, auranya akan berbeda. Memasak di dapur, jika dilandasi keikhlasan dan ketulusan, akan mengundang selera dan ketagihan.


Kita harus khuznudhon pada Allah apapun yang di berikan pada kita. Bukankah semua yang terjadi didunia atas seizin-Nya? Termasuk ketika kita diberi amanah anak, berarti Allah menganggap kita mampu dna layak dititipi, maka jagalah dengan sebaik-baiknya.


Beberapa hal untuk mencetak anak-anak solih/sholehah:

  1. Sejak dini sudah di kenalkan Allah (walaupun hal-hal yang sederhana, kita pastikan Allah  dulu). Sebelum kita infaq hendaknya kita lebih dulu berdoa. Ketika anak meminta sesuatu, sampaikan minta sama Allah, agar Ayah dan Bunda diberi rezeki dan kemudahan.
  2. Orang tua mendorong hal-hal positif kepada anak. Dukung anak dalam setiap kebaikan, bukan hanya secara materi, tapi juga secara emosional dan spiritual.
  3. Teladan dengan keikhlasan kita. Anak-anak itu peniru paling ulung. Berikan teladan yang baik. Ketika anak marah kita peluk, energinya luar biasa.


Jawaban atas Pertanyaan Wali Murid


1. Bagaimana meyakinkan diri bahwa Allah akan mencukupkan untuk menyekolahkan anak, meski finansial tidak cukup?

- QS. Ath-Thalaq: 3 — “Barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhannya).”

- Jangan takut miskin karena menyekolahkan anak. Rezeki anak juga ditanggung Allah.

- Keajaiban (miracle) sering kali datang saat kita berbuat baik tanpa pamrih.


2. Bagaimana menyeimbangkan anak agar tetap berbagi, tapi tidak dimanfaatkan oleh orang lain?

- Ajarkan bahwa kebaikan tidak akan sia-sia.

- QS. Az-Zalzalah: 7 — "Barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya)."

- Ajari batas dan adab menolak dengan santun.

---


Penutup:

Kita adalah pikiran kita. Maka, berpikirlah baik, berprasangka baik, dan bertindaklah ikhlas. Parenting bukan sekadar mendidik anak, tapi juga *perjalanan spiritual untuk terus memperbaiki diri sebagai hamba Allah.*


Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi shalih, kuat, dan bahagia dunia akhirat. Aamiin.***


Parenting Menurut Islam dalam Alquran

 

www.sditarrahmahlumajang.sch.id | Parenting - Membahas tentang pengasuhan dalam Islam, mengingatkan kita untuk mengingat 3 hal yang berimplikasi dalam kesuksesan kita menciptakan dan memimpin peradaban yang Islami lewat anak-anak kita.

Ketiga poin parenting menurut Islam ini tentunya selaras dengan apa yang sudah Allah firmankan dalam Alquran.

 

1. Anak Adalah Amanah

Dalam surat At-Taghabun ayat 15, disebutkan bahwa:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya:
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Ayat ini bermaksud bahwa anak adalah amanah atau titipan yang harus dijaga dengan baik.

Memang betul ungkapan ini sudah sangat umum kita dengar. Akan tetapi, ternyata, kalimat sederhana yang menyatakan bahwa anak merupakan amanah ternyata tidak berarti sesederhana itu.

Dengan berpedoman pada firman Allah ini, maknanya ada 3, yaitu:


a. Orang tua bertanggung jawab, tetapi tidak memiliki kontrol penuh

Karena anak merupakan amanah dari Allah Swt, orang tua tentu harus merawat dengan penuh tanggung jawab dan upaya yang sebaik-baiknya. Akan tetapi, hasil dari pengasuhan tidak ada dalam kendali kita. Serahkan hasilnya kepada Allah. Sebagai orang tua, kita hanya bisa berfokus mengasuh anak-anak sesuai dengan aturan-aturan agama. Inilah salah satu kunci paling penting dalam parenting menurut Islam yang tak boleh kita lupakan.
 

b. Allah tempat bergantung sepenuhnya dalam pengasuhan

Sebagai orang beriman, kita harus ingat bahwa hati manusia pada sejatinya milik Allah, oleh karena itu tips parenting menurut Islam yang harus diingat adalah patuh dan menyerahkan segalanya kepada Allah. Dengan mematuhi Allah, maka yang menjadi tanggung jawab kita, yaitu anak, insyaallah juga akan patuh.

Untuk hal ini, kita dapat berkaca pada kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS yang tertuang dalam Al-Kahfi ayat 60-82. Ketika Nabi Khidir membunuh seorang anak, Nabi Musa bertanya mengapa hal itu beliau lakukan. Nabi Khidir lalu menjawab bahwa anak ini jika dibiarkan akan membuat orang tuanya kufur, padahal kedua orang tuanya adalah orang mukmin.

Pada kisah ini, orang tuanya tidak salah, baik, dan mengajarkan anak-anaknya nilai-nilai keimanan. Akan tetapi, anaknya tetap menjadi kufur. Ini karena Allahlah yang memegang hati dan memiliki kehendak, sehingga orang tua tidak punya kuasa apa pun terhadap hal itu. 

 

c. Orang mukmin selalu menjaga amanahnya

Rasa cinta yang mendalam pada anak bukanlah hal yang mengherankan. Ini pun sudah difirmankan Allah dalam surat Ali Imran ayat 14, sehingga menjadi poin parenting dalam Islam yang penting.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ

Artinya:
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.“

Akan tetapi, jangan sampai cinta terhadap anak membuat orang tua berpaling dari cara menjaga amanah tersebut dengan cara-cara terbaik sesuai agama. Dengan kata lain, sayang kepada anak tidak boleh menjerumuskan kita sebagai orang tua di akhirat.

Menjadi orang tua harus menyenangkan, tapi batasan-batasan yang tegas dan jelas harus dibuat. Pasalnya, dengan membiarkan anak jika melanggar aturan agama dengan alasan sayang justru malah berarti tidak menjaga amanah dengan baik.
 

2. Fitrah Manusia adalah Beriman Kepada Allah

Setiap anak dilahirkan suci dari dosa dan hal-hal negatif. Orang tualah yang mengajarinya hal-hal eksternal. Dengan memahami bahwa fitrah manusia adalah beriman kepada Allah, kita harus menjaganya menjadi demikian. Dan karena fitrah manusia adalah beriman, maka akan jauh lebih mudah untuk mengajarkannya taat kepada Allah dan hal-hal baiknya.


3. Tujuan Parenting adalah Mengajarkan Taat

Sebagai orang tua, tanamkan mindset bahwa tujuan parenting menurut Islam adalah untuk mengajarkan taat pada Allah, sesuai dengan pedoman Alquran dan hadis. Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, mengajarkan anak untuk taat juga selaras dengan fitrahnya, dan ini tentu merupakan cara yang benar untuk menjaga amanah dari Allah.

Dalam At-Tahrim ayat 6, Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Pada intinya, muliakanlah anak-anakmu dan ajarkan mereka untuk berakhlak mulia. Tanamkan pada diri buah hati untuk menjadikan Allah pusat kehidupan. Jagalah Allah, maka Allah pun akan menjagamu. (Faris BQ) ***

Mendidik Karakter dengan Karakter

Mengurus Mesin Saja Butuh Waktu 4 Tahun Belajar


www.sditarrahmahlumajang.sch.id | Parenting - "Ketika saya hendak memberikan air untuk orang lain, apakah saya bisa memberikannya tanpa ada air dalam botol minuman saya?", sebuah pertanyaan dari Bu Ida S. Widayati kepada hadirin dalam sebuah seminar.

Jawabannya tentu tidak bisa. Demikianlah dengan mendidik karakter pada anak. Kita tidak bisa menanamkan karakter yang baik pada anak, jika kita tak memiliki karakter yang baik pula.

"Jika menginginkan anak yang memiliki karakter, maka sebagai orang tua harus mengimplementasikannya lebih dulu", lanjutnya. 

 

Dalam bukunya "Mendidik Karakter dengan Karakter", beliau hendak menekankan kepada pembaca, bahwa teladan dari orang dewasa sangat mempengaruhi karakter dan pribadi anak.  Mendidik karakter dengan karakter berarti menggunakan keteladanan dalam perilaku dan tindakan sehari-hari untuk mengajarkan nilai-nilai moral dan karakter kepada orang lain, terutama anak-anak. Ini melibatkan tindakan nyata yang mencerminkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan, bukan hanya sekadar teori atau ceramah.

 

Dibanding profesi lainnya, menurut penulis buku Mendidik Karakter dengan Karakter ini, orangtua adalah profesi yang paling tidak tersiapkan dengan ilmu pengetahuan. Akibatnya, orangtua harus belajar justru setelah mereka menjadi orangtua.

 

“Mengurus mesin saja butuh waktu empat tahun belajar dan jadi sarjana mesin,” ungkap Teh Ida, sapaan akrabnya. Apatah lagi mengurus anak. Maka kita harus terus belajar tanpa henti sebagai orangtua. Begitu juga guru, karena peran guru sama dengan orangtua, maka mereka hanya boleh berhenti belajar ketika sudah pensiun dari pekerjaannya. 

 

Problem keluarga dalam mendidik terus berubah seiring arus zaman dan teknologi. Ini challenge (tantangan) bagi kita untuk terus belajar dan mengurangi kesalahan,” imbuhnya.

 

Cerdas berkarakter itu terdiri dari tiga unsur yaitu rumah, lembaga pendidikan, dan lingkungan. Tiga hal itulah yang disebut mempengaruhi karakter anak. Karakter anak ditentukan pada masa awal usia anak. Ibarat spons, otak anak masa itu sanggup menyerap informasi apa saja. Di masa itu, dibutuhkan didikan dan asuhan yang berkarakter dari orangtua dan lingkungannya. 

 

Usia 0-7 tahun adalah usia dimana pikiran anak terbentuk melalui apa yang dilihat dan didengar. Jika pada usia tersebut, lanjutnya, anak hanya mendengar kalimat negatif dari orangtua, maka itulah yang membentuk self-talk negatif pada diri anak.

 

Jadinya timbul rasa minder dan tidak percaya diri anak. Self-talk negatif ini yang bikin anak sulit untuk maju,” ungkapnya.

 

Pendidikan karakter dengan karakter menekankan pentingnya contoh nyata dalam proses pembelajaran. Berikut beberapa aspek pentingnya:

1. Menjadi Teladan 

Pendidik, orang tua, atau figur otoritas lainnya harus menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang ingin diajarkan. Jika ingin mengajarkan kejujuran, maka harus jujur dalam setiap tindakan. Jika ingin mengajarkan tanggung jawab, maka harus bertanggung jawab dalam setiap tugas.

 

2. Menciptakan Lingkungan yang Mendukung 

Selain contoh pribadi, lingkungan sekitar juga berperan penting. Menciptakan lingkungan yang positif, mendukung, dan mempromosikan nilai-nilai karakter yang diinginkan akan memperkuat proses pembelajaran.

 

3. Mengintegrasikan Nilai dalam Pembelajaran 

Nilai-nilai karakter tidak hanya diajarkan secara terpisah, tetapi juga diintegrasikan dalam berbagai aspek pembelajaran. Misalnya, dalam diskusi, proyek, atau kegiatan sehari-hari di sekolah atau rumah.
    

4. Memberikan Penguatan Positif    

Memberikan pujian, penghargaan, atau apresiasi ketika melihat perilaku positif yang mencerminkan nilai-nilai karakter yang diajarkan. Ini akan memotivasi individu untuk terus mengembangkannya.

 

5. Menumbuhkan Kesadaran
Pendidikan karakter juga melibatkan penumbuhan kesadaran akan nilai-nilai tersebut. Membantu individu memahami mengapa nilai-nilai tertentu penting dan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan mereka. 
 

 

6. Memberikan Konsekuensi 

Setiap tindakan memiliki konsekuensi. Pendidikan karakter melibatkan pemahaman tentang konsekuensi baik dan buruk dari setiap perbuatan. Ini membantu individu memahami dampak dari pilihan mereka.
    

Dengan mendidik karakter dengan karakter, kita tidak hanya mengajarkan nilai-nilai, tetapi juga membentuk kepribadian yang kuat dan bertanggung jawab, serta siap menghadapi tantangan kehidupan. ***

BIJAK MENGASUH, BIJAK BERTUMBUH: MEMBANGUN GENERASI TANGGUH DARI RUMAH

“Orang tua yang paling hebat bukan yang sempurna, tapi yang terus belajar memahami anaknya.” 

 

www.sditarrahmahlumajang.sch.id | Parenting - Tujuan utama parenting selain memahami hasil psikotes CPM dan tes sosial-emosional yang sudah dilakukan adalah untuk mengenali potensi dan tantangan anak secara psikologis, membangun pola asuh yang bijak untuk membentuk generasi tangguh, dan yang terpenting juga dapat menerapkan solusi praktis pengasuhan ananda di rumah.

 

Dalam setiap tahapan perkembangan anak, pastilah ada dinamikanya, dan pengaruh orang dewasa dan lingkungan sekitar sangat berpengaruh. Yang perlu dipahami bahwa apapun tahapan tumbuh kembang anak bukan masalah, tapi proses. Anak hiperaktif bukan berarti nakal. Anak yang pemalu bukan berarti tidak percaya diri. Anak yang lambat belajar bukan berarti tidak cerdas. Perilaku anak adalah cerminan dari kebutuhan yang belum terpenuhi. Tidak ada yang lebih baik antara Introvert dan Ekstrovert, karena semua adalah tahapan perkembangan anak. Perilaku tidak ideal bukanlah hukuman, tapi panggilan untuk dibimbing. 

 

Menjadi Orang Tua yang Bijak

Bijak Mengasuh Artinya:

  • Mengasuh berdasarkan kebutuhan anak, bukan ekspektasi sosial. Artinya, orang tua fokus memahami dan memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak—baik secara fisik, emosional, maupun spiritual—tanpa terjebak pada standar atau tekanan sosial, seperti pencapaian akademik semata, perbandingan dengan anak lain, atau gaya pengasuhan yang sedang tren.

    Ini selaras dengan prinsip pendidikan Islami dan pendekatan psikologis modern yang mendorong kepekaan, empati, serta komunikasi dua arah antara orang tua dan anak.

    “Anak tidak dilahirkan untuk memenuhi ekspektasi masyarakat. Mereka hadir dengan fitrah dan kebutuhan unik yang menanti untuk dipahami, bukan dibandingkan.” 
 
  • Mengutamakan koneksi sebelum koreksi. Ini adalah prinsip pengasuhan dan pendidikan yang menekankan pentingnya membangun hubungan emosional yang aman dengan anak sebelum memberikan teguran, nasihat, atau perbaikan perilaku.

    Maknanya:
    ▶ Sebelum orang tua atau guru menasihati atau memperbaiki sikap anak, bangun dulu hubungan yang hangat dan saling percaya.  
    ▶ Anak yang merasa dihargai dan disayangi akan lebih terbuka menerima arahan.  
    ▶ Koreksi tanpa koneksi sering memicu penolakan, marah, atau merasa tidak dimengerti.

    Contoh Praktis:
    - Dengarkan dulu keluh kesah anak sebelum menegur kesalahannya.
    - Tunjukkan empati dan pelukan sebelum memberi nasihat.

    “Ketika anak merasa diterima, dia akan lebih siap diperbaiki. Maka, sambunglah hati sebelum menunjuk salah.”

  • Konsisten dalam aturan, fleksibel dalam pendekatan. Pernyataan ini mengandung prinsip mendidik yang tegas tapi bijak, sangat relevan dalam pengasuhan dan pendidikan anak.

    Maknanya:
    - Konsisten dalam aturan: Aturan dibuat sebagai panduan yang jelas, memberi batasan mana yang boleh dan tidak. Anak butuh kepastian dan struktur untuk tumbuh dengan aman.
    - Fleksibel dalam pendekatan: Cara menyampaikan aturan atau menegur disesuaikan dengan usia, kondisi emosi, dan karakter anak. Tidak semua anak bisa diperlakukan dengan cara yang sama.

    Contoh:
    - Aturan: “Tidak boleh memukul.”
    - Pendekatan ke anak usia 5 tahun: diberi pelukan dan penjelasan sederhana.
    - Pendekatan ke anak usia 10 tahun: diajak diskusi dan diminta introspeksi.

    Nilai yang dibangun:
    ✔ Tertib dan tanggung jawab  
    ✔ Rasa aman dan keadilan  
    ✔ Hubungan yang sehat antara pendidik dan anak

Contoh  nyata : Jika anak sering tantrum : Bukan langsung dihukum, tapi pahami: “Apa yang membuat anak tidak nyaman?”

 

Membangun Generasi Tangguh 

3 Pilar Anak Tangguh dari Rumah: 

  •  Emosi Aman: Ada tempat pulang yang menerima.
Emosi aman berarti seseorang merasa tenang untuk mengekspresikan perasaannya tanpa takut dihakimi, ditolak, atau disalahkan. Dalam keluarga atau sekolah, ini penting agar anak tidak memendam masalah. Rumah atau lingkungan yang penuh kasih. Tempat di mana seseorang kembali bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosional—diterima dan dipahami.
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala perkara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  •  Mental Kuat: Diajar menghadapi, bukan menghindari masalah.
Mental kuat bukan berarti tidak pernah jatuh, tapi mampu bangkit setelah jatuh. Anak perlu dilatih untuk menghadapi masalah, bukan dibiasakan lari atau selalu diselamatkan dari tantangan.

Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah: 286  
  “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”  
  → Masalah pasti bisa dihadapi, Allah sudah ukur sesuai kemampuan kita.

“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah...” 
(HR. Tirmidzi)    

Ajarkan anak menyelesaikan konflik dengan komunikasi, bukan diam atau menghindar. Bimbing anak menyelesaikan tugas sulit, bukan mengambil alih sepenuhnya. Kembangkan pola pikir growth mindset: kegagalan adalah bagian dari proses belajar.

Kata pepatah: “Anak yang dilatih menghadapi badai akan tumbuh menjadi pelaut tangguh, bukan hanya penumpang yang ketakutan.”
 
  •  Kebiasaan Baik: Disiplin positif, bukan hukuman negatif.
Disiplin positif bukan sekadar memberi konsekuensi, tapi membantu anak memahami makna dari aturan. Fokus pada perbaikan perilaku dan pembentukan kebiasaan baik, bukan balas dendam atau mempermalukan.
Contoh Penerapan Disiplin Positif
- Mengarahkan anak untuk memperbaiki kesalahan, bukan sekadar menghukum.
- Memberikan pilihan, bukan paksaan.
- Memberi konsekuensi logis dan konsisten, bukan emosi sesaat.
- Memuji upaya, bukan hanya hasil, agar anak merasa dihargai dalam proses belajar.

Generasi tangguh = anak yang bisa bangkit, bukan yang tak pernah gagal 
 
Harapan & Perubahan Itu Mungkin
“Abnormal bukan akhir. Setiap anak punya peluang berubah jika kita mengubah pendekatan.”

Perilaku bisa dibentuk dengan pola yang konsisten. Anak adalah peniru terbaik, perubahan dari orang tua sama dengan perubahan pada anak. Anak yang dulu agresif tapi berubah dengan bimbingan dan pendampingan. Peran guru, psikolog, dan orang tua sebagai tim yang solid.
 
Apa yang Bisa Dilakukan Mulai Hari Ini? 
A. Dengarkan anak tanpa langsung menghakimi
B. Luangkan waktu 15 menit sehari untuk ngobrol dari hati ke hati
C. Ciptakan rutinitas yang membuat anak merasa aman
D. Kompak dengan guru & psikolog sekolah 
 
***

 

 

FINALLY, I FOUND HIM


www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Lelaki yang kisahnya telah saya  dengar bertahun-tahun lalu ini adalah salah satu dari sekian banyak cerita orang-orang saleh yang sulit dilupakan. Sejak pertama mendengarnya, sungguh kisah itu terlanjur menancap kuat di ingatan.

Namun sayangnya, dahulu saya tidak sempat bertanya kepada sang pencerita siapakah gerangan lelaki yang mulia tersebut. Hingga waktu terus bergulir tahun demi tahun, sampai Allah berkenan menurunkan nikmat-Nya dengan menunjukkan kepada saya jati diri lelaki istimewa tersebut.

Suatu kehormatan bagi saya untuk dapat mengetengahkan kisah ini kepada saudara semua, semoga meninggalkan bekas yang dalam di hati saudara sebagaimana yang pernah saya rasakan ketika pertama kali mendengar cerita ini.

Kisah ini tertulis dalam kitab kumpulan nasihat Al-Allamah Al-Qutb Abdul Qadir Assegaf dari Jeddah. Kurang lebih beginilah jalan ceritanya;

Alkisah seorang anak lelaki yang tumbuh hingga remaja dalam pengasuhan yang baik dari ayah dan ibunya. Kedua orang tuanya menjaga dengan sungguh-sungguh akhlak di dalam keluarga. Ayahnya yang alim mengajarnya kitab-kitab ulama sedangkan ibunya yang salehah mendidiknya adab yang luhur.

Hingga tibalah saat ayahnya wafat, remaja lelaki itu kehilangan sosok bapak sekaligus guru. Ia lantas berniat menemui teman baik ayahnya sekaligus ulama besar pada zaman itu yaitu Al-Imam Abdullah bin Husain bin Tahir, pengarang kitab Sullamut Taufiq.

Ketika telah tiba di hadapan Al-Imam Abdullah, beliau hanya memberikan kitab Ihya Ulumuddin dan berpesan agar si lelaki kembali ke rumah dan membaca isi kitab tersebut sedikit demi sedikit.

Peristiwa yang terjadi berikutnya adalah klimaks dari kisah ini. Yaitu setelah berbulan-bulan lelaki ini mendalami sendiri Ihya Ulumuddin, ia sampai kepada bab tentang akhlak tercela dalam kitab tersebut.

Sebuah bab yang menerangkan tentang perbuatan ghibah (membicarakan kejelekan orang lain), perbuatan hasad (dengki dengan kenikmatan orang lain), dan lain sebagainya sifat yang buruk.

Lelaki itu betul-betul tidak mengerti dengan pembahasan tersebut. Ia lantas datang menemui Al-Imam Abdullah untuk menanyakan hal ini.

Demi mendengar pertanyaan tersebut, ulama besar ini terdiam. Matanya tampak berkaca-kaca menyaksikan lelaki yang demikian bersih hatinya sedang duduk di depannya.

"Anakku, bab tersebut bukan untukmu. Karena engkau menerima pendidikan dari orang tuamu (yang sangat lembut), maka engkau tak pernah tahu selama hidupmu ini sifat-sifat seperti ghibah dan hasad itu ada."

Demikianlah kisah ini berakhir, sebuah kisah tentang rumah yang penuh dengan pendidikan akhlak mulia, sampai-sampai penghuni rumahnya tak pernah mendengar sama sekali adanya akhlak tercela.

Sebuah kisah tentang orang tua yang memberi teladan baik sepanjang waktunya, menjaga anak-anaknya dengan sangat hati-hati, sampai anak-anak mereka belum pernah melihat sama sekali tentang apa yang dinamakan "akhlak buruk".

Sebuah kisah yang membuat hati ini cemburu ketika mendengarnya pertama kali seraya menjerit kepada Allah, "Duhai Rabb, ampuni dosa kami karena anak-anak justru mengenal akhlak tercela itu dari diri kami sendiri."

Lelaki dalam kisah itu bernama Sayyid Abdul Qadir bin Hasan Assegaf yang lahir pada kisaran tahun 1200-an Hijriyah di negeri Yaman.

Sumber : Channel Telegram Ust. Arafat

Mengajar Ala Rasulullah

www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Rasulullah adalah contoh teladan yang sempurna dalam kehidupan dan ajarannya. Meskipun kita tidak bisa menandingi kehebatan beliau, ada beberapa sifat dan tindakan yang dapat kita teladani sebagai seorang guru:

1. Keteladanan dan akhlak mulia 

Rasulullah adalah contoh teladan dalam akhlak dan budi pekerti. Sebagai seorang guru, kita harus menunjukkan sikap dan perilaku yang baik kepada murid-murid kita. Jadilah teladan dalam kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan etika yang baik. 

Dalam Alquran, Allah SWT berfirman:

 لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ 

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab: 21)

Ibnu katsir menerangkan bahwa ayat yang mulia itu merupakan dalil pokok yang paling besar, yang menganjurkan kepada manusia yang beriman agar meniru Rasulullah SAW dalam semua ucapan, perbuatan, dan sepak terjangnya.

Karena itulah Allah SWT memerintahkan kepada kaum mukmin agar meniru sikap Nabi SAW dalam hal kesabaran, keteguhan hati, kesiagaan, dan perjuangannya, serta tetap menanti jalan keluar dari Allah SWT. Semoga shalawat dan salam-Nya terlimpahkan kepada Rasulullah SAW sampai hari kiamat.

Salah satu alasan diutusnya Nabi Muhammad SAW oleh Allah SWT di Arab tidak lain untuk membenahi akhlak masyarakat pada masa itu. 

Hal ini disebutkan dalam hadits.

 عَنْ أَبِي هُرَيرة قَالَ: قَالَ رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّمَا بُعِثتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: "Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang baik. 

Mengenai akhlak Nabi SAW, Siti Aisyah radhiallahu anha menjawab: كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ Artinya: Akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Quran.

2. Kasih sayang dan perhatian

Rasulullah sangat memperhatikan murid-muridnya. Beliau memberikan perhatian penuh terhadap kebutuhan mereka, mengenal mereka secara personal, dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Sifat ini juga harus dimiliki oleh seorang guru modern.

قَالَ أَبُو الْتِّيَّاحِ: عَنْ أَنَسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ خُلُقًا 

Abut Tayyah telah meriwayatkan dari Anas r.a. hadis berikut: Rasulullah Saw. adalah orang yang paling baik akhlaknya.

3. Sabar dan penyabar

Rasulullah bersikap sabar dalam menghadapi kesulitan dan tantangan Sebagai seorang guru kita akan menghadapi berbagai situasi yang menuntut kesabaran. Bersabarlah dalam membantu murid mengatasi kesulitan belajar atau masalah pribadi.

Di dalam Al-Quran, Allah ta’ala memerintahkan kita untuk bersabar pada dua hal,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّـهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS. Ali Imran : 200)

Perintah sabar yang pertama, adalah sabar mewujudkan iman yang pokok. Kemudian sabar yang kedua, untuk mewujudkan penyempurna iman.

Ini menunjukkan pentingnya sabar, dan kita diperintah sabar, sampai bertemu Allah. Karena memperjuangkan agar iman ini semakin dan semakin sempurna; diantara yang paling urgent berjuang melalui ilmu, adalah perjuangan sampai akhir hayat. Ini juga bukti bahwa sabar itu tidak ada batasnya. Karena pahalanya pun tak terbatas.

Setelah kita sadar dan menjalani bahwa belajar itu perlu sabar, fase setelahnya pada ayat yang lain, Allah mengajak kita untuk bersabar dalam menyampaikan ilmu/mengajar,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. (QS. Al-Kahfi : 28)

4. Menjaga kesetaraan dan keadilan

Rasulullah memperlakukan semua murid dengan adil dan setara tanpa membedakan suku, ras, atau latar belakang. Sebagai guru, berikan perhatian dan kesempatan yang sama kepada semua murid tanpa memandang perbedaan mereka.

Berkenaan dengan hal itu Allah juga telah memberikan isyarat tentang manusia merupakan zoon politicon dalam QS. Al-Hujurat : 13 yang artinya :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal satu sama lain, Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu…”

Sebagaimana juga diterangkan dalam hadis Nabi saw,

Diriwayatkan dari Abu Malik al-Asy’ari bahwa Rasulullah saw bersabda,“Sesungguhnya Allah swt tidak memandang kepada pangkat-pangkatmu, tidak memandang pada nasab-nasabmu, tidak pada bentuk rupamu, dan tidak pula memandang pada hartamu, melainkan yang Allah pandang adalah hatimu”

 
5. Menggunakan metode pembelajaran yang efektif

Rasulullah menggunakan berbagai metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pemahaman murid-muridnya. Sebagai seorang guru, kita juga harus mencari cara-cara yang efektif untuk menyampaikan materi agar mudah dipahami oleh murid.

Metode adalah المنهج al-manhaj atau الوصلة al-wasalah, yakni sistem atau pendekatan serta sarana yang digunakan untuk mengantar kepada suatu tujuan. Tanpa metode, proses pembelajaran tidak akan dapat tercapai efektif dan efesien menuju ke tujuan pendidikan. Metode pendidikan yang tidak tepat guna akan menjadi penghalang kelancaran jalan proses pembelajaran sehingga banyak tenaga dan waktu yang terbuang sia-sia. Oleh karena itu, metode yang diterapkan oleh pendidik, akan berdaya guna dan berhasil guna apabila menggunakan metode yang tepat sehingga tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan.

Kewajiban tentang belajar dan pembelajaran Firman Allah QS. al-Nahl (16):125ِ

ادْع إِلَى ٰ سَبِيل ِ رَبِك َ بِالْحِكْمَة ِ وَالْمَوْعِظَة ِ الْحَسَنَةۖۙوَجَادِلْه ََ ِه و َ أَعْل ِهِي َ أَحْسَن ۚ إِن َّ رَبَّك م ْ بِالَّتِي َّم بِمَن ْ ضَل ْ

عَن ْ سَبِيلِه ِ ۖ و َِه و َ أَعْلَم بِال َمهْتَدِين 

Terjemahnya :
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. 

Dalam ayat ini, Allah swt menyuruh dalam arti mewajibkan kepada Nabi Muhammad saw., dan umatnya untuk belajar dan mengajar dengan menggunakan metode pembelajaran yang baik (billatiy hiya ahsan). Dari ayat ini, sehingga dapat dikorelasikan dengan ayat-ayat lain yang mengandung interpretasi tentang metode belajar dan pembelajaran berdasarkan konsep qur’anī. 

 
6. Mendengarkan dengan penuh perhatian

Rasulullah adalah pendengar yang baik. Sebagai guru, dengarkanlah dengan seksama apa yang dikatakan murid dan berikan tanggapan yang tepat serta bermanfaat.

Perintah mendengar adalah perintah terpenting untuk menemukan sebuah kebenaran, terlebih disaat dibacakan pada dirinya tentang alquran. Sebagaimana perintah dalam Firman Allah swt,

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Apabila dibacakan al-Quran, perhatikanlah dan diamlah, maka kalian akan mendapatkan rahmat.” (QS. al-A’raf: 204).

 
7. Mendorong kreativitas dan pemikiran kritis

Dalam prespektif ayat Al-Quran sudah banyak dijelaskan bahwa kreatif sangat dibutukan. Sebagai salah satu contoh ayat yang membahas kreativitas, bahkan menjadi perintah untuk berpikir kreatif telah termaktub dalam QS. Al-Baqarah (2): 219-220, seperti berikut:

“… Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan, Tentang dunia dan akhirat …” (LPMQ, 2021).


Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada manusia untuk mengolah apa yang sudah Allah ciptakan kepadanya dengan cara befikir karena  manusia diberi akal untuk mengasah otak. Dengan manusia berusaha menggunakan akalnya, itu adalah perintah yang sudah ditetapkan Allah agar manusia dapat berkembang (Wahidar, 2018)

Wallahu A'lam. */ dikutip dari berbagai sumber


Keteladanan Orang Tua dalam Mendidik Anak

www.sditarrahmahlumajang.sch.id - BANYAK orang tua yang mengiginkan anaknya menjadi shalih sehingga mereka berlomba-lomba mengikuti berbagai seminar parenting, menyekolahkan si buah hati di sekolahan terbaik, ataupun memberikan berbagai macam fasilitas untuk menunjang pendidikan sang buah hati. Namun yang jangan dilupakan adalah keteladanan orang tua dalam mendidik anak.


Karena pada faktanya banyak para orang tua yang akhirnya kesulitan mencetak dan mendidik anak-anak mereka sesuai cita-cita. Bisa jadi karena mereka tidak paham soal keteladanan orang tua dalam mendidik anak.

Tak jarang ditemukan anak-anak yang bersikap jauh dari sopan dan adab. Bahkan cenderung berani terhadap orang tua dan gurunya sendiri. Masih teringat kisah seorang murid di Madura yang berani menganiaya gurunya hingga menyebabkan sang guru tewas karena tak terima ditegur saat menganggu teman-temannya yang sedang belajar.

Pun kita temukan beberapa kasus seorang anak yang melawan orang tuanya sendiri, tidak mau mendengarkan nasihat, suka menghardik maupun gampang membantah. Hingga berujung pelampiasan kepada teman diluar, melalui aksi tawuran ataupun kekerasan pelajar.

Realitas remaja zaman now juga sudah di luar batas kewajaran. Seks bebas, mengunggah video alay dan berlomba-lomba mengikuti berbagai challenge kekinian hingga berbagai pola tingkah laku yang mudah terbawa arus globalisasi tak segan mereka lakukan. Parahnya, mereka tak lagi menganggap hal itu tabu.

Jika menilik salah satu penyebab itu semua adalah hilangnya keteladanan orangtua pada anak sejak dini. Pasalnya, kesibukan dalam dunia kerja telah memalingkan orang tua dari kewajiban mengasuh dan mendidik anak. Tidak ada keteladanan orang tua dalam mendidik anak.

Sebagai ganti, orangtua sering kali memberi fasilitas smartphone untuk mengisi hari-hari anak. Padahal, berbagai informasi dan ekspresi liar dapat mereka temukan di media sosial. Apalagi jika keimanan anak lemah, bisa dipastikan mereka tak mampu selektif dalam menerima informasi. Walhasil, bukan solusi yang mereka dapatkan namun problematika baru yang justru menjadi bumerang. Padahal keteladanan orang tua dalam mendidik anak sangat penting.

Meluruskan Visi-Misi Orangtua

Permasalahan yang sangat kompleks ini tak bisa diselesaikan dengan cara instan. Maka sejak awal pernikahan, selayaknya orangtua sudah memiliki visi dan misi dalam mendidik anak.

Beberapa hal yang harus dipersiapkan oleh orangtua ketika sedari awal telah berniat mengambil peran tersebut:

Pertama, yang perlu diingat oleh orangtua adalah bahwa sejak anak dilahirkan, mereka telah memiliki predikat sebagai khoiru ummah (umat terbaik) yang mengajak pada kebaikan.

Sebagaimana yang tersurat dalam QS. Al-Imran: 110, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” Dari sini, seharusnya orangtua termotivasi untuk mencetak anak-anak yang siap menyeru pada kebaikan, bukan sebaliknya.

Kedua, para orangtua sudah seharusnya takut seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, sebagaimana hal tersebut dijelaskan dalam QS. An-Nisa: 9, “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya.”

Dengan semua ini, maka semestinya para orangtua mencurahkan segala daya dan upaya untuk mendidik anak yang kuat iman, ilmu, amal dan fisik. Keteladanan orang tua dalam mendidik anak berperan penting membentuk mereka menjadi generasi yang tangguh.

Selanjutnya ada dua cara yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk mencetak generasi tangguh.

Pertama, orangtua perlu menanamkan kepribadian Islam pada diri anak. Yaitu, anak dididik untuk menjadikan aqidah Islam sebagai landasan berpikirnya dan senantiasa menjadikan standar perbuatannya terikat pada hukum syara’.

Kedua, orangtua harus senantiasa menumbuhkan jiwa kepemimpinan pada anak. Sehingga anak tidak mudah menjadi follower keburukan, tetapi anak menjadi leader untuk kebaikan. Namun semua itu bermuara dari keteladanan orang tua dalam mendidik anak.

Tak cukup hanya itu saja, untuk kesuksesan orang tua dalam memberikan keteladanan terbaik bagi anak demi mewujudkan generasi yang tangguh, perlu sinergi dari berbagai pilar pendidikan.

Karena keberadaan orangtua yang merupakan bagian dari keluarga teramat berat memikul pendidikan generasi, jika tidak dibarengi dengan tegaknya pilar pendidikan lainnya, yaitu masyarakat dan negara. Peranan masing-masing pilar tersebut adalah:

1. Keluarga. 

Di dalam keluarga, orangtua perlu memberi keteladanan orang tua dalam mendidik anak dalam segala hal, dimulai dari:

a. Kepatuhan kepada Allah baik dalam urusan ibadah, muamalah, pergaulan dan berbagai masalah kehidupan lainnya.

b. Mewujudkan keshalihan terlebih dahulu di dirinya dalam bentuk bersegera melaksanakan syariat Allah, berakhlaqul karimah, mencintai ilmu, menjaga diri dan sebagainya. Hingga semua itu akan membentuk kebiasaan yang baik pada anak.

c. Kelembutan dan kasih sayang. Dengan kelembutan dan kasih sayang yang didapatkan dari orangtua, maka hal itu akan melekat kuat dan membentuk sikap jiwa yang produktif bagi anak.

d. Kepedulian terhadap umat hingga semangat memperjuangkan agama Allah. Sebagaimana dalam firman Allah dalam QS Al Hujurat (49) : 10 “Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara.” Ayat ini mengajak sesama kaum mukmin untuk saling peduli, mengerti kondisi satu sama lain, tak cuek ataupun individualis.

Di sinilah pentingnya keteladanan orang tua dalam mendidik anak sehingga orang tua tak hanya menyibukkan diri pada urusan pribadi saja. Selain memberi teladan sikap peduli terhadap umat, para orangtua harus memberikan contoh langsung semangat dan perjuangan menegakkan agama Allah.

2. Masyarakat. 

Keberadaan masyarakat yang kondusif dalam mencetak generasi tangguh teramat penting. Masyarakatlah yang akan mengokohkan pendidikan anak yang telah diperoleh dalam keluarga. Sebaliknya jika masyarakat buruk, masyarakatlah yang akan meruntuhkan pendidikan anak yang telah diterima dalam keluarga. Karena, keluarga adalah bagian dari masyarakat.

3. Negara. Negara harus menjamin kesejahteraan masyarakat, agar orangtua dapat fokus mendidik anak. Di samping itu, negara pula yang menjamin keberlangsungan sistem pendidikan yang kondusif.

Maka ini semua akan sangat mudah diwujudkan jika para orangtua mau berbenah, menata ulang kembali visi misi mereka serta ikut mewujudkan kondisi pendidikan ideal dengan tegaknya tiga pilar. Hingga akhirnya mereka mampu memberikan teladan terbaik bagi sang buah hati dan menghasilkan generasi tangguh nan cemerlang dambaan surga yang siap memimpin masa depan. Wallahua’lam. */ Dini Prananingrum, dinie.azzahra@gmail.com

Sumber : https://www.islampos.com/keteladanan-orang-tua-dalam-mendidik-anak-239548/

Perlukah Bilingual Sejak Usia Dini?

www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Bahasa adalah jendela dunia. Ungkapan tersebut benar adanya. Karena dengan mempelajari bahasa maka kita juga akan meguasai berbagai ilmu. Karena pengantar sebuah ilmu adalah bahasa. Tanpa bahasa kita tidak akan memahami suatu ilmu. 

Saat ini yang sedang menguasai ilmu di dunia adalah dari barat. Sehingga banyak sekali kaum muslimin yang ingin menguasai bahasa Inggris. Termasuk orang tua, ingin anaknya mahir bahasa Inggris dari usia dini. Sebenarnya bagus. Hanya saja harus ada tahap-tahap tertentu yang harus dilalui oleh orang tua ketika mengajarkan bilingual atau bahkan multilingual pada anak usia dini. Karena kesalahan mengajarkan bahasa akan bisa mengakibatkan terlambatnya perkembangan bahasa anak.   

Ketika anak lahir maka akan mengalami fase perkembangan bahasa seperti ini:
  • Menangis ( 0-3 bulan)
    Fase dimana anak mengekspresikan keinginannya dengan tangisan. Apa yang dia inginkan akan diungkapkan dengan tangisan.
     
  • Mendekut atau cooing
    Yaitu bayi pada usia 2-3 bulan mulai mengeluarkan suara seperti, aah,uuh dan merespon berbagai suara yang ada disekitarnya. Mengeluarkan bunyi-bunyi sebagai tanda awal bayi bicara.

    Mencari sumber suara dan memberi respon ke sumber suara.
     
  • Berceloteh atau babbling.
    Bayi usia 6 bulanan mulai mengeluarkan suara berupa ocehan atau kosa kata tunggal misalnya, papapa, mamamama, dadadada, tatatata, dll.
     
  • Mengucapkan kata pertama.
    Diusia 1 tahun biasanya anak mulai mengucapkan kata pertamanya. Apakah, mama, umi, ayah.
     
  • Usia 1-2 tahun anak kosa katanya semakin banyak. Biasanya usia ini anak normal mempunya 400-600 kosa kata baru.

    Mulai bisa bicara kata-kata sederhana yang sering didengar. Misal, makan, minum, mandi, dll.
     
  • Usia 2-3 tahun.Bisa menyusun kalimat sederhana yang terdiri dari 2 kata. Misalnya, Aku haus. Itu Kursi. Ini Baju.

    Diusia 2-3 tahun anak semakin banyak kosa kataya. Lebih dari 600 kosa kata.

    Sudah mampu memahami arti dari kalimat sederhana. Aku tidur. Dia memahami artinya.
     
  • Usia 3 tahun keatas.Bisa membuat kalimat kompleks yang terdiri dari 4-5 kata. Misal, Aku makan roti enak sekali.

    Anak usia 4-6 tahun bahkan sudah bisa bercerita dengan bahasanya sendiri tentang peristiwa sederhana.   
 Nah, pada usia 0-6 tahun ini anak harus kita asah kemampuan bahasanya.

Sampai anak mampu memiliki bahasa yang jelas dan lancar. Tidak kesulitan mengeja huruf, kata dan membuat kalimat dan memahami makna kalimat.


Karena proses berbahasa anak adalah sebagai berikut:
🌸Anak diajarkan mengenal benda oleh orang terdekatnya.

🌸Kata tersebut akan disimpan sebagai informasi pertama pada otak anak. Untuk membentuk kemampuan berbicara.

🌸Kosa kata yang tersimpan tersebut akan digunakan anak untuk bahan baku berbahasa tahap selanjutnya, yaitu membuat kalimat.

🌸Anak dilatih menyusun kalimat sederhana yang terdiri dari 2 kata.

🌸Anak memahami makna kata dan kalimat sederhana tersebut.

🌸Kemampuan menyusun kalimat sederhana ini akan menjadi dasar bagi anak untuk tahap menyusun kalimat kompleks.

🌸Anak dilatih menyusun kalimat kompleks yang terdiri dari 4-5 kata.

🌸Anak memahami makna kalimat kompleks tersebut.

🌸Kemampuan menyusun kalimat kompleks ini akan menjadi dasar untuk membuat paragraf sederhana. Kemudian teks yang kompleks.


Nah, ketika pada tahap awal anak gagal menyimpan informasi pertama pada otak karena memakai bilingual. Pada saat itu anak gagal menapaki tahap berbahasa berikutnya.

Karena pada tahap usia 0-3  tahun proses yang terjadi adalah memasukan kosa kata dasar atau menyimpan informasi pertama.

Pada tahap ini anak akan mengambil satu bahasa untuk proses pembentukan kemampuan berbicaranya.

Ketika gagal. Maka anak bisa mengalami speech delay atau lambat bicara.


Sehingga pada tahap usia 0-6 tahun orang tua seharusnya mengajarkan satu bahasa terlebih dahulu pada anak. Yaitu bahasa ibu. Bahasa yang digunakan oleh anak untuk berkomunikasi sehari-hari dengan anak lain, teman-temanya dan masyarakatnya.

Kalau di kita tinggal di Indonesia, maka anak diajarkan bahasa Indonesia.

Kalau anak tinggal di Inggris maka anak diajarkan bahasa Inggris.

Kalau anak tinggal di Arab maka anak diajarkan bahasa Arab.


 Setelah anak lancar dan jelas berbicara, maka anak baru boleh diajarkan bahasa lain. Biasanya usia 7 tahun ke atas.

Misalnya, anak Indonesia diajarkan bahasa Inggris atau bilingual.

Pada saat ini anak akan bisa memilih dan memilah saat menggunakan bahasa. Kapan berbahasa Indonesia. Kapan berbahasa Inggris.

Sehingga anak tidak akan mengalami keterlambatan perkembangan bahasa atau speech delay.

Karena diajarkan bilingual pada saat yang tepat.


Sumber : https://t.me/ParentingOnKidsPassion 
Desain Oleh Masnur Masnur Belajar | Spesial Buat SDIT Ar Rahmah