Tampilkan postingan dengan label Motivasi dan Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi dan Inspirasi. Tampilkan semua postingan

BETTER TOGETHER

Koordinasi Pekanan



www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Beberapa waktu lalu kebetulan saya sedang berada di sekitar Lumajang, sekalian saja putar-putar cari tempat cuci motor. Mata saya tertuju pada sebuah spanduk yang bertuliskan, Cuci Motor Lima Menit!

Saya yakin pasti hanya penarik perhatian saja. Masa sih lima menit bisa buat cuci motor? Daripada penasaran, saya buktikan saja sekalian. Sebab biasanya di tempat pencucian seperti itu sekira 15 menit bahkan lebih jika banyak antrian, bahkan bisa lebih lagi jika dikerjakan dua orang saja.

Akhirnya motor saya masuk, dengan sigap dua orang petugas mencuci seluruh bagian motor. Satu orang di sebelah kiri, dan satu orang lagi di sebelah kanan. Tak heran dalam hitungan satu sampai dua menit tugas mereka selesai!

Motor saya kemudian maju lagi ke pos kedua, di mana duq orang sudah siaga untuk membilas hasil cuci tersebut dengan air bersih. Mereka juga tak kalah cepatnya dengan rekan mereka di awal tadi!

Lantas motor saya majukan kembali menuju pos terakhir. Yaitu pos pengeringan, dan dalam satu komando kedua orang petugas yang berbeda lagi, bekerja mengeringkan setiap sudut-sudut body motor.

Masing-masing membawa alat yang berbeda, dan sudah sangat terlatih dengan wilayah tugasnya! Beberapa menggunakan lap kanebo, sedangkan yang lain dilengkapi dengan vacuum cleaner.

Tahukah saudara bagaimana hasilnya? Motor saya masuk dalam keadaan kotor pukul 14:50 dan keluar dari tempat itu dengan kondisi bersih pukul 14:55. Tepat lima menit! Saya kagum luar biasa dengan kerjasama mereka yang sangat kompak.

Begitulah jika sebuah pekerjaan dilakukan bersama-sama maka hasilnya pasti mengagumkan. Better together! Bayangkan, yang biasanya hanya dua orang pekerja, di sana setiap satu motor dikeroyok oleh enam tenaga!

Jangan-jangan inilah dia rahasia mengapa sebagian besar ibadah kita dianjurkan untuk bersama-sama. Contohnya shalat, begitu dikerjakan berjamaah hasilnya 27 kali lebih baik. Sungguh mengagumkan!

Contoh lainnya adalah bersedekah, karena saat sedekah dikeroyok oleh banyak orang, hasilnya akan lebih bermanfaat daripada saat kita sedekah sendiri.

Cobalah bawa uang kita ke Palestina sendirian, apa yang bisa dibantu dengan uang sekecil itu?

Tetapi jika uang tersebut dikumpulkan dan dijadikan satu dengan para dermawan lainnya, insya Allah jauh lebih berguna! Better together!

Begitu juga pekerjaan lainnya, jika bekerja sendirian tidak mungkin bisa diselesaikan, tetapi dengan bekerja bersama-sama semuanya akan jadi mudah, bahkan bisa jadi sangat mudah. 

Jadi teringat nasihat ini :

"Kesuksesan bukan soal seberapa tinggi jabatanmu, tetapi seberapa besar manfaatmu untuk orang lain." (Aa Gym)

"Tidak ada “aku” dalam tim. Yang ada hanya “kita”.

"Satu buah lidi akan mudah dipatahkan, sementara kumpulan lidi bisa dimanfaatkan untuk membersihkan."

"Sukses sendiri itu biasa, sukses bersama itu luar biasa".


Salam sukses!

***




3 Karunia Besar dari Allah : Pendengaran, Penglihatan, dan Hati


www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Pernahkah kita memperhatikan bahw dalam Al-Qur’an, Allah sering menyebut tiga hal ini secara berurutan: pendengaran, penglihatan, dan hati?


Misalnya dalam Surah An-Nahl ayat 78, Allah berfirman,

وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikanmu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)


Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan dalam kitab tafsirnya,

خَصَّ هٰذِهِ ٱلْأَعْضَاءَ ٱلثَّلَاثَةَ لِشَرَفِهَا وَفَضْلِهَا، وَلِأَنَّهَا مِفْتَاحٌ لِكُلِّ عِلْمٍ؛ فَلَا يَصِلُ لِلْعَبْدِ عِلْمٌ إِلَّا مِنْ أَحَدِ هٰذِهِ ٱلْأَبْوَابِ ٱلثَّلَاثَةِ.

“Allah menyebutkan secara khusus tiga anggota tubuh ini (pendengaran, penglihatan, dan hati) karena kemuliaan dan keutamaannya, serta karena ketiganya adalah kunci bagi setiap ilmu. Tidaklah ilmu bisa sampai kepada seorang hamba kecuali melalui salah satu dari tiga pintu ini.” (As-Sa’di, 2012, hlm. 467)


Ibn Qayyim al-Jawziyyah (1433 H) menyatakan bahwa “kebahagiaan manusia adalah dengan baiknya tiga hal (yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati). Kesengsaraan manusia adalah karena rusaknya tiga hal tersebut” (vol. 1, p. 354).


Beliau juga mengatakan, “Keyakinan itu ada tiga tingkatan: (1) as-sam‘u (pendengaran), (2) al-‘ainu (penglihatan, mata), (3) hati” (Ibn Qayyim al-Jawziyyah, 1433 H, vol. 1, p. 352).


Adapun kenikmatan ahli surga, menurut beliau, diraih dengan dua hal utama: “(1) melihat Allah, dan (2) mendengarkan kalamullah” (Ibn Qayyim al-Jawziyyah, 1433 H, vol. 1, p. 352).


Tentu bukan tanpa alasan Allah menyebutkan urutan ini berulang kali. Ada hikmah besar di baliknya. Mari kita bahas satu per satu.


1. Urutan yang Sesuai dengan Fitrah Manusia

Pendengaran disebut lebih dulu karena memang itulah yang pertama kali berfungsi dalam tubuh manusia. Bahkan sejak bayi masih di dalam kandungan, ia sudah bisa mendengar suara ibunya. Setelah lahir, barulah ia mulai melihat, lalu seiring waktu, memahami dan merasakan sesuatu dengan hati dan akalnya.


Ilmu pengetahuan modern juga mendukung hal ini. Pendengaran aktif lebih awal, disusul penglihatan, dan terakhir, fungsi akal dan perasaan (hati) berkembang saat anak mulai berpikir.


2. Cara Manusia Menerima Ilmu

Urutan ini juga menunjukkan bagaimana manusia menyerap ilmu:


Pendengaran: Kita pertama-tama mendengar nasihat, bacaan, atau pelajaran.

Penglihatan: Kemudian kita melihat dan mengamati hal-hal di sekitar kita.

Hati: Lalu hati mengolah dan memahami apa yang kita dengar dan lihat. Hati inilah yang membuat kita bisa membedakan benar dan salah, lalu mengambil keputusan.


3. Alat yang Akan Dihisab

Pendengaran, penglihatan, dan hati bukan sekadar anugerah, tetapi juga amanah. Semuanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah, sebagaimana dalam ayat,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra: 36)


Apa yang kita dengar, lihat, dan pikirkan akan ditanya satu per satu di akhirat kelak.


Di dalam Al-Quran Tadabbur wa ‘Amal (hlm. 285) disebutkan, “Pendengaran, penglihatan, dan hati adalah karunia besar dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sering kali kita tidak menyadari betapa berharganya nikmat ini, kecuali setelah kehilangannya. Maka selama masih diberi kesempatan, gunakanlah seluruhnya dalam ketaatan kepada-Nya.”


4. Hati adalah Pusat Keimanan

Meskipun disebut terakhir, hati bukan berarti kurang penting. Justru sebaliknya, hati adalah pusat iman. Jika hati rusak, semua akan rusak. Ada orang yang punya mata dan telinga, tapi tetap tidak mau menerima kebenaran. Itu karena hatinya tertutup. Allah menyebut mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat, dalam Surah Al-A’raf ayat 179.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)


Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُۥ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى ٱلسَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaaf: 37)


Allah menyebut ayat-ayat-Nya (tanda kebesaran-Nya) melalui apa yang dibaca, didengar, dan dilihat, semua itu hanya bermanfaat pada orang yang punya hati, karena siapa saja yang tidak memiliki hati yang memahami penjelasan dan peringatan dari Allah, maka apa pun tanda kebesaran yang melintas di hadapannya tidak akan membawa guna, meski seluruhnya.


Dalam hal ini, hati terbagi menjadi tiga jenis, yaitu : 

1. hati yang selamat, sehat, dan bisa menerima.

2. menghadirkan dan menyatukan hati, serta mencegahnya agar tidak berlarian dan berserakan.

3. menggunakan pendengaran dan fokus untuk ingat.

Ketiga hal ini disebutkan dalam ayat di atas.


Ibnu ‘Athiyah berkata, “Hati yang dimaksud di sini mengungkapkan fungsi akal, sebab akal tempatnya di hati. Artinya, bagi orang yang hati sadar maka dia dapat memetik manfaat dengannya.”


Penutup

Penyebutan pendengaran, penglihatan, dan hati dalam Al-Qur’an bukanlah kebetulan. Di dalamnya ada pelajaran besar:

1. Sesuai dengan perkembangan alami manusia.

2. Menunjukkan urutan cara manusia memahami ilmu.

3. Tiga hal ini adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan.

4. Hati adalah pusat keimanan dan penentu baik-buruknya seseorang.


Maka, mari kita jaga telinga kita dari mendengar yang sia-sia, jaga mata kita dari melihat yang haram, dan rawat hati kita agar selalu bersih dengan dzikir dan ilmu. Semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur, sebagaimana tujuan Allah menciptakan ketiga anugerah ini.***


Referensi:

1. As-Sa’di, A. b. N. (2012). Tafsir As-Sa’di (Taysir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir al-Kalam al-Mannan). Damaskus: Muassasah Ar-Risalah.

2. Ibn Qayyim al-Jawziyyah. (1433 H). Miftah dar as-sa‘adah wa mansyur wilayah ahli al-‘ilm wa al-idarah (Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali al-Halabi al-Atsari, Takhrij). Riyadh: Dar Ibnul Qayyim & Dar Ibn ‘Affan.

3. Markaz al-Minhaj li al-Isyraf wa al-Tadrib wa al-Tarbawi. (1442 H). Al-Qur’an tadabbur wa ‘amal (hlm. 285).

***

Muslim Itu Pantang Mengeluh dan Pantang Menyerah

Bermain labirin (Doc. Humas SDIT Arrahmah)



www.sditarrahmahlumajang.sch.idAllah Ta’ala di dalam Al-Qur’an berfirman memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya. Ia berfirman,

إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا * إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًا * وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)

Sungguh manusia diciptakan dengan membawa sifat keluh kesah saat tertimpa kemudaratan; dirinya akan kaget, tidak siap, dan hatinya seakan-akan copot karena rasa takut yang dahsyat, serta menyerah dari mendapat kebaikan setelah musibah yang menimpanya tersebut. Dan apabila dirinya mendapat kebaikan, maka ia menjadi amat kikir, tidak mau berbagi dengan orang lain dan enggan menunaikan hak Allah yang ada padanya.

Allah Ta’ala berfirman menyampaikan betapa buruknya watak mengeluh dan mudah putus asa, 

 اِنَّه لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ

 “Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87)


Dari sini dapat kita pahami bahwa berkeluh kesah dan menyerah adalah watak buruk yang dimiliki oleh hampir semua dari kita. Sehingga terkadang tanpa kita sadari, kita pun melakukannya. Lalu, bagaimana hukum dari watak tersebut? Apakah hal itu dibenarkan oleh syariat kita ataukah terlarang?


Allah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang pun

Marilah kita jauhi sikap menentang ketentuan-ketentuan dan takdir-Nya, menggerutu atas keputusan-Nya kepada kita. Seorang muslim harus berserah diri pada apa yang Allah takdirkan dan putuskan, serta bersabar atas ketentuan dan ujian-Nya Ta’ala. Dengan mengetahui bahwa setiap ketetapan dan ketentuan-Nya bagi seorang mukmin tidak lain adalah kebaikan baginya, seorang muslim akan mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan, ia akan bersyukur atas limpahan kebaikan yang Allah berikan kepadanya, dan ia akan bersabar saat tertimpa ujian dan kesusahan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,


عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وليسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له، وإنْ أصابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له


“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)


Dengan mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui seluruh kondisi hamba-Nya, Allah Maha Bijaksana dan Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya, maka diri kita akan jauh dari mengeluh dan berputus asa. Memiliki harapan besar akan pahala dan bersabar atas setiap kesusahan yang kita hadapi. Ingatlah wahai saudaraku, mungkin saja engkau memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat engkau capai dengan amal saleh dan kebaikanmu. Akan tetapi, engkau akan mencapainya karena kesabaran dalam menghadapi ujian yang telah Allah berikan kepadamu.

Keutamaan sabar

Allah Ta’ala berwasiat di dalam Al-Qur’an,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)


Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam kitabnya, Aisar At-Tafaasiir, menyebutkan, “Pada ayat 157, Allah Ta’ala memberikan kabar gembira kepada mereka, orang-orang yang bersabar, dengan ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan mendapatkan rahmat dari Rabbnya. Dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk untuk memperoleh kebahagiaan dan kesempurnaan hidup. Allah Ta’ala berfirman, “Merekalah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”


Dari satu ayat ini saja, mereka yang bersabar, maka Allah janjikan kepada mereka tiga keutamaan,

1) Mendapatkan ampunan Allah;

2) Mendapatkan rahmat dan kasih sayang-Nya;

3) Mendapatkan hidayah dan petunjuk Allah Ta’ala.


Sungguh tiga keutamaan ini sudah cukup bagi diri kita untuk senantiasa berusaha bersabar tatkala ujian dan cobaan datang menghampiri kita, tidak mengeluh apalagi menyerah atas takdir tersebut.


Agar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesah

Tatkala Allah Ta’ala memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya, Allah Ta’ala mengecualikan beberapa orang yang aman dari watak buruk ini. Ia berfirman,

إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ * ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَآئِمُونَ * وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ * لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ * وَٱلَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ * وَٱلَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ * إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ

“Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (mereka menegakkan salat lima waktu pada waktunya); dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, (yaitu) bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta); dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan; dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).”  (QS. Al-Ma’arij: 22-28)


Yang pertama, wahai saudaraku adalah menjaga salat lima waktu, secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah masing-masing bagi wanita. Sungguh salat akan menjaga seseorang dari perangai dan watak buruk. Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”  (QS. Al-Ankabut: 45)


Yang kedua, menyisihkan sebagian harta untuk diberikan kepada mereka yang tidak mampu.

Yang ketiga, beriman dengan hari kebangkitan dan hari pembalasan.

Yang keempat, merasa takut akan azab Allah Ta’ala.


Dengan melakukan keempat hal tersebut, maka Insya Allah kita akan dituliskan sebagai hamba-hamba Allah yang senantiasa bersyukur kepada Allah dan tidak mudah mengeluh serta berputus asa dari rahmat-Nya.


Akhir kata, ingatlah selalu wahai saudaraku, tidaklah seorang hamba diberikan ujian oleh Allah Ta’ala kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya. Dan tidaklah Allah memberikan ujian dan rasa susah kecuali setelahnya akan ada kemudahan. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)


Ingatlah juga wahai saudaraku sekalian akan firman Allah Ta’ala,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Talaq: 2)


Saat ujian itu datang menghampiri diri kita, ingatlah selalu bahwa Allahlah yang menakdirkan dan menghendakinya. Tetaplah beribadah dan menjaga kewajiban salat kita. Jangan sampai ujian yang datang tersebut justru menjadi pintu pembuka akan keburukan lainnya. Dari rasa malas, mengeluh, dan putus asa dari rahmat Allah. Wal ‘iyadzu billah.

Wallahu a’lam bissowab…


Sumber: https://muslim.or.id/108728-muslim-itu-pantang-mengeluh-dan-pantang-menyerah.html


KARYA SPEKTAKULER ANDA YANG BERJUDUL AFTERLIFE

www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Beethoven adalah salah satu komposer musik klasik paling legendaris di dunia. Karya yang paling terkenal berjudul Symphony No.5 tak lekang oleh zaman meski sudah berusia lebih dari dua ratus tahun.


Proses mengerjakan karya musik tersebut memakan waktu hingga empat tahun sejak 1804 sampai 1808. Selama itu pula Beethoven menggoreskan nada demi nada agar karyanya sempurna.

Symphony menggambarkan kedamaian di dalam diri manusia serta kesendirian yang sangat emosional. Musiknya terkadang lembut namun terkadang meletup-letup penuh energi.

Seniman dunia yang lain adalah Leonardo da Vinci sang pelukis Monalisa sebagai lukisan paling mahal sepanjang masa. Berapa lama lukisan spektakuler itu dikerjakan?

Menurut catatan sejarah, proses mengerjakan karya lukis tersebut berjalan selama empat belas tahun sejak 1503 hingga 1517. Selama itu pula da Vinci menggoreskan warna demi warna agar karyanya sempurna.

Monalisa menggambarkan jiwa manusia yang penuh teka-teki. Meski lukisannya adalah sosok yang tersenyum, namun senyum tersebut cukup misterius. Senyum yang menyimpan kemarahan dan ketakutan sekaligus.

Tak hanya Beethoven dan Leonardo da Vinci yang mencipta karya dalam jangka waktu yang lama. Sesungguhnya setiap kita juga sedang dalam proses mengerjakan karya, bahkan lebih lama dari belasan tahun. Yaitu seumur hidup kita.

Tentu bukan Symphony atau Monalisa yang sedang kita buat ini, melainkan apa yang diberi judul oleh orang-orang barat sebagai Afterlife. Lebih dari sekedar karya musik ataupun karya lukis, Afterlife adalah kehidupan kita sendiri di alam akhirat.

Betapa selama ini kita tak menyadari, bahwa kehidupan akhirat adalah karya kita sendiri selama di dunia. Tak ada orang lain yang mewakili kita untuk membuatkan karya ini. Setiap orang mengerjakan prosesnya masing-masing.

Penggambaran seperti apa yang akan kita dapatkan di akhirat? Tergantung kepada prosesnya di dunia. Bisa berupa kedamaian, kesendirian, ketakutan, kemarahan, dan sebagainya. Apapun itu kitalah yang menentukannya sekarang.

Jika saat ini kita gemar berbuat baik, maka nanti akan menghasilkan hidup di akhirat penuh kebaikan pula. Sekecil apapun pertolongan yang kita ulurkan kepada orang lain, kelak akan mencipta hidup di akhirat yang ditolong Allah.

Sebagaimana pesan Kiai Maimun Zubair, "Jika engkau menjumpai anak ayam terpisah dari induknya, maka ambil dan susulkan ia dengan induknya. Semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu di surga."

Saat dunia ini benar adanya sebagai tempat berjalannya proses dalam kita mencipta karya, maka tugas kita berarti menggoreskan kebaikan demi kebaikan agar karya kita sempurna. 

Sumber : Arafat Telegram Channel


Lejitkan Potensi Siswa Kelas 6 Melalui Motivasi dan Outing Class di Bumper Glagaharum

www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Kegiatan Motivasi dan Outing Class dengan Tema "Melejitkan potensi diri menjadi mutaqin berprestasi" yang dilaksanakan oleh siswa dan siswi kelas 6 SDIT ARRAHMAH. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari yakni tanggal 25-26 Februari 2025 yang bertempat di Bumi Perkemahan Glagah Arum Kandang tepus, Lumajang. 


Kegiatan bertujuan untuk mempersiapkan siswa dan siswi kelas 6 SDIT  ARRAHMAH untuk mengahadapi ujian sekolah. 

Dalam kegiatan ini terlihat seluruh siswa merasa senang. "Saya senang mengikuti kegiatan ini, karena dengan mengikuti kegiatan ini bisa melatih kemandirian, kebersamaan, kerjasama dll. apalagi ketika pelaksanaan Outbond sangat seru karena disana juga dilatih untuk memiliki sifat jujur. Kami juga bisa melaksanakan shalat malam bersama itu sangat menyenangkan. Saya ingin kegiatan seperti ini dilaksanakan kembali sebelum kami lulus dari SDIT ARRAHMAH." Ungkapan salah satu siswa kelas 6. 


Salah satu Wali murid juga mengungkapkan,  "Kegiatan ini seru, bahagia dan menyenangkan akan menjadi kesan yang luar biasa bagi anak-anak"


Semoga dengan pelaksanaan kegiatan ini seluruh siswa dan siswi kelas 6 bisa menjadi manusia yang Muttaqin dan berprestasi di jenjang pendidikan selanjutnya. Amiinn Amiin Ya Rabbal Alaminn. 


Tak lupa juga kami ucapkan terimakasih ayah bunda kelas 6, atas support dan kerjasamanya yang sgt luar biasa. Terimakasih untuk pengurus paguyuban yang telah membersamai anak-anak dari berangkat sampai pulang. Terimakasih juga untuk donatur yang telah mensupport agenda ini. Terimakasih banyak untuk semuanya sehingga agenda ini dapat berjalan dengan lancar .. 


Semoga kegiatan ini penuh hikmah dan barakah. Amiin Ya Robbal Alamiin. (Jahro)

MENJADI MANUSIA YANG MERDEKA

www.sditarrahmahlumajang.sch.id -  Satu hari yang lalu, tepatnya hari Kamis tanggal 17 Agustus 2023 masyarakat Indonesia baru saja merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-78 tahun. Sebagai seorang muslim, kita harus meyakini bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah pemberian dari penjajah Belanda atau Jepang. Tetapi semuanya adalah nikmat dan anugerah Allah swt.


Sungguh tepat jika para pejuang kemerdekaan menuangkan rasa syukurnya dalam pembukaan UUD 1945, "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan yang luhur, supaya berkehidupan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya." 
 
Pertanyaannya sekarang, apakah yang dimaksud dengan hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya? 
 
Sebelum menjawab pertanyaan ini, marilah kita pahami makna kemerdekaan. Makna kemerdekaan dalam konteks berbangsa dan bernegara adalah terbebasnya bangsa Indonesia dari segala macam bentuk penindasan dan penjajahan bangsa asing, seperti Penjajahan Belanda dan penjajahan Jepang 78 tahun yang lalu. Tugas berikutnya adalah mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat untuk bangsa dan negara tercinta Indonesia.
 
Saudaraku rahimakumullah!
Itulah konsep kemerdekaan dalam konteks berbangsa dan bernegara. Akan tetapi, untuk mengisi kemerdekaan Indonesia, hati dan jiwa setiap warga negaranya harus benar-benar merdeka dan terbebas dari belenggu hawa nafsu. Karena hakikat kemerdekaan yang paling hakiki adalah hati kita betul-betul merdeka dari jajahan hawa nafsu dan setan. 

Dalam sebuah riwayat disebutkan, ketika Rib’i bin Amir radhiyallahu anhu, salah seorang utusan pasukan Islam dalam perang Qadishiyah ditanya tentang perihal kedatangannya oleh Rustum (panglima pasukan Persia), ia menjawab, “Allah swt mengutus kami (Rasul) untuk memerdekakan manusia dari penghambaan manusia kepada manusia menuju penghambaan manusia kepada Rabb manusia, dari sempitnya kehidupan dunia kepada kelapangannya, dari ketidakadilan agama-agama yang ada kepada keadilan Islam.”  
 
Dari riwayat tersebut, sangat jelas bahwa Islam memandang kemerdekaan bukan dari satu sisi saja, melainkan dari semua sisi, baik lahiriyah maupun batiniyah, yakni kemerdekaan atau bebas dari penghambaan kepada selain kepada Allah swt.    
 
Pada prinsipnya, manusia pada hakikatnya adalah hamba Allah swt. Status sebagai hamba Allah, selalu kita ikrarkan pada setiap bacaan doa iftitah. 
“…Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku 
hanya untuk Allah Tuhan seluruh alam.” 
 
Dari bacaan do’a iftitah ini ada empat bentuk kemerdekaan yang telah kita ikrarkan, yakni shalat, ibadah, hidup dan mati yang semuanya diserahkan pada Allah swt Sang Pemilik Kehidupan.
 
Dengan istilah lain, ketika seseorang yang hatinya tidak berdaya, masih dikuasai ikatan hawa nafsu, kemudian dia lebih menaati hawa nafsunya dari pada menaati Rabb-nya, sesungguhnya manusia pada kondisi ini belum merdeka, karena dirinya masih dijajah oleh hawa nafsu. 

Sebaliknya, ketika seorang hamba merdeka dari jajahan godaan setan serta balatentaranya, berarti ia telah diberikan Allah ta'ala kemerdekaan dan kebahagiaan. Bahkan diberikan Allah ta’ala berupa kebaikan wafat yang husnul khatimah yang bermuara kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
 
Saudaraku rahimakumullah!
Berdasarkan pada keterangan di atas, sudah saatnya masyarakat Indonesia, terkhusus kaum muslimin untuk selalu waspada terhadap para penjajah yang selalu mengintai manusia itu sendiri. Pada kesempatan hari ini, khatib akan menyampaikan tiga jenis penjajahan yang mengintai manusia, dengan harapan setelah memahami ini, kita selalu semangat mengisi kemerdekaan Indonesia. 
 
Pertama, penjajahan dari iblis dan setan.
Iblis dan setan adalah penjajah yang paling berbahaya bagi manusia. Keduanya, Iblis dan setan adalah makhluq Allah swt yang memiliki visi dan misi untuk menyesatkan manusia dari jalan hidayah dan Islam. Iblis selalu menggoda manusia, dimulai dari diciptakannya Nabi Adam 'alaihissalam hingga hari kiamat nanti.
 
Hal ini dijelaskan dalam surat Al A'raf ayat 17: 
“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A’raf : 17).  
 
Pada surat al A'raf ayat 17 di atas, secara tegas Allah swt menjelaskan bahwa iblis dan setan akan mengerahkan berbagai macam cara untuk menggelincirkan manusia dari jalan kebaikan. Akhirnya manusia akan terperangkap dengan bujuk rayu iblis dan setan, kecuali mereka yang pandai bersyukur dan taat kepada perintah Allah swt. Bahkan begitu dahsyat godaannya, iblis dan setan mampu menyusup melalui pada aliran darah manusia. Dan salah satu untuk mempersempit geraknya adalah dengan taat kepada Allah swt.
 
Kedua, penjajah manusia yang tidak kalah bahayanya adalah hawa nafsu.
Setiap manusia memiliki hawa nafsu. Kewajiban manusia adalah mengendalikan hawa nafsu agar nafsu menjadi dasar atau pendorong untuk melakukan berbagai macam kebaikan. Nafsu tidak bisa dihilangkan, tetapi harus dikendalikan agar membawa manfaat, terhindar dari keburukan dan kebinasaan.
 
Allah swt berfirman dalam surat Yusuf ayat 53:
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yusuf [12]: 53).
 
Artinya jika manusia mampu mengendalikan nafsu, niscaya nafsu-nafsu itu akan menjadi nafsu muthmainah, yaitu nafsu yang dapat dikendalikan oleh akal yang sehat dan hati yang jernih. Nafsu ini akan mendapat rida Allah swt, mengantarkan kepada  kebaikan dan mendapatkan husnul khatimah di akhir hidupnya sebagai pintu menuju surga Allah 
 
Di dalam Al-Quran, sudah diceritakan beberapa kisah kehinaan dan kejatuhan manusia yang disebabkan karena menuruti hawa nafsunya. Diantaranya adalah kisah Raja Fir’aun. Raja Fir'aun diberikan kekuatan dan kekuasaan memimpin rakyatnya. Selama hidupnya, Firaun memiliki tubuh yang sehat dan bugar tanpa pernah mengalami sakit. Namun sayang, hidupnya tidak merdeka. Raja Fir’aun hidupnya dikendalikan hawa nafsu yang mendorong dirinya bertindak kejam. Bahkan dirinya menganggap Tuhan.  
 
Begitu juga dengan Qarun, yang dikuasai hawa nafsu berupa harta yang membuatnya dirinya bakhil dan kufur nikmat. Akhirnya Allah murka dan menenggelamkan Qarun beserta harta kekayaannya dan para pengikutnya ke dalam tanah. Begitu juga dengan kaum Nabi Luth yang dikuasai hawa nafsu menyimpang. Hingga kemudian Allah swt murka dan menurunkan kepada mereka adzab-Nya disebabkan karena mereka memperturutkan hawa nafsunya dan tidak taat kepada Allah Sang Khaliq.
 
Ketiga, penjajah yang menghantui manusia adalah hubbuddunya  wakarahiyyatul maut.
Hubbddun-ya adalah kecintaan terhadap dunia berlebihan sampai lupa dengan kehidupan akhirat.  Sedangkan wakarahiyyatul maut adalah perasaan takut atau kebencian terhadap kematian sehingga orang akan berusaha sekuat tenaga akan mencari kebahagiaan sesaat di dunia. Apa pun dilakukan demi mendapatkan kebahagiaan di dunia, tidak peduli aturan Allah ta’ala, halal haram semuanya tidak pernah dihiraukan. Akhirnya manusia tersebut meninggalkan kewajiban ibadah.
 
Kebencian terhadap kematian bila sudah sampai taraf semacam ini akan menyebabkan kualitas muslim semakin lemah dan memudahkan para penjajah orang-orang kafir memerangi kaum Muslimin dan merampas negara dan harta kekayaannya. Akhirnya hidupnya terjajah. Tidak mampu merasakan menjadi insan yang merdeka. Hidupnya seperti diperbudak dunia. Diberikan harta, kekayaan dan jabatan, perasaannya selalu kurang. Tidak pernah merasa cukup.

Marilah di momentum Kemerdekaan RI yang ke 78 tahun ini, kita kembali semangat berjuang agar kita menjadi manusia yang merdeka. Terbebas dari penjajahan hawa nafsu, terbebas dari belenggu iblis setan dan terbebas dari perliaku cinta dunia berlebihan dan takut kematian, sehingga kita dapat membangun bangsa tercinta Indonesia dengan amanah dan tanggung jawab menuju negeri baldatun thayyibatun warabbun ghafuur.
 
Aamiin Yaa Rabbal’alamiin. */
Mohamad Mufid, M. Pd.I (Ketua PD IKADI Kota Prabumulih Sumatera Selatan)


SIAPA BILANG 0 TIDAK BERARTI?

www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Di sebuah pelatihan online melalui zoom meeting, jumlah peserta mencapai seribu orang. Satu hari sebelumnya undangan digital dibuat, dan sudah disebarkan pula pada hari yang sama kepada peserta.

Namun ketika waktu yang ditunggu-tunggu tiba kemarin, sebuah insiden terjadi. Rupanya operator zoom yang diberi amanat untuk menyiapkan room dengan kapasitas seribu peserta, salah membuat konfigurasi menjadi seratus. Memang seperti kesalahan kecil saja, hanya kurang satu angka nol.

Tetapi kekeliruan mengetik 1000 menjadi 100 rupanya memberi efek yang cukup besar. Sepanjang hari itu di HP operator penuh notifikasi dari pada peserta yang bertanya-tanya mengapa mereka tak bisa masuk.

Ada ratusan orang yang kecewa, bertambah pekerjaan untuk menjelaskan apa yang terjadi sambil memohon maaf. Belum lagi harus mengulang agenda yang sama pekan depan.

Setidaknya ada pelajaran berharga dari kejadian tersebut, bahwa angka 0 itu tidak bisa diremehkan. Memang terkadang 0 itu tak berarti, tapi dalam kondisi tertentu bisa saja ia menjadi begitu penting.

Bila angka 0 dalam hitungan manusia cukup berharga, apalagi kalau kita bayangkan dalam hitungan Allah. Tentu teramat besar lagi berharganya. Mari kita ingat-ingat ketika Allah menjanjikan angka 0 kepada manusia.

مَن جَآءَ بِٱلْحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

"Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya."

Pada Surat Al-An'am ayat 160 di atas, Allah berfirman bahwa 1 kebaikan yang kita lakukan akan diberi pahala dengan tambahan angka 0 menjadi 10. Tak berhenti sampai di sini, ada pula dalam Surat Al-Baqarah ayat 261,

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ

"Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji."

Lihatlah ayat tersebut, bahkan Allah menambah pahala laksana bulir tanaman yang dapat menghasilkan 100 biji. Artinya dilipatgandakan pahala hingga dua angka 0 setelahnya.

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."

Kalau dua angka 0 belum juga dianggap penting oleh kita, simaklah kembali Surat Al-Qadr yang menyebutkan bagaimana pahala berlipat-lipat mencapai tiga angka 0 setelahnya. Yaitu ketika 1 dianggap seperti 1000. Masihkah kita akan menganggap angka 0 yang datang dari Allah itu tidak berarti?

Salam sukses! */ Admin


Desain Oleh Masnur Masnur Belajar | Spesial Buat SDIT Ar Rahmah