Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Agama Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Agama Islam. Tampilkan semua postingan

MENJADI MANUSIA YANG MERDEKA

www.sditarrahmahlumajang.sch.id -  Satu hari yang lalu, tepatnya hari Kamis tanggal 17 Agustus 2023 masyarakat Indonesia baru saja merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-78 tahun. Sebagai seorang muslim, kita harus meyakini bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah pemberian dari penjajah Belanda atau Jepang. Tetapi semuanya adalah nikmat dan anugerah Allah swt.


Sungguh tepat jika para pejuang kemerdekaan menuangkan rasa syukurnya dalam pembukaan UUD 1945, "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan yang luhur, supaya berkehidupan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya." 
 
Pertanyaannya sekarang, apakah yang dimaksud dengan hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya? 
 
Sebelum menjawab pertanyaan ini, marilah kita pahami makna kemerdekaan. Makna kemerdekaan dalam konteks berbangsa dan bernegara adalah terbebasnya bangsa Indonesia dari segala macam bentuk penindasan dan penjajahan bangsa asing, seperti Penjajahan Belanda dan penjajahan Jepang 78 tahun yang lalu. Tugas berikutnya adalah mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat untuk bangsa dan negara tercinta Indonesia.
 
Saudaraku rahimakumullah!
Itulah konsep kemerdekaan dalam konteks berbangsa dan bernegara. Akan tetapi, untuk mengisi kemerdekaan Indonesia, hati dan jiwa setiap warga negaranya harus benar-benar merdeka dan terbebas dari belenggu hawa nafsu. Karena hakikat kemerdekaan yang paling hakiki adalah hati kita betul-betul merdeka dari jajahan hawa nafsu dan setan. 

Dalam sebuah riwayat disebutkan, ketika Rib’i bin Amir radhiyallahu anhu, salah seorang utusan pasukan Islam dalam perang Qadishiyah ditanya tentang perihal kedatangannya oleh Rustum (panglima pasukan Persia), ia menjawab, “Allah swt mengutus kami (Rasul) untuk memerdekakan manusia dari penghambaan manusia kepada manusia menuju penghambaan manusia kepada Rabb manusia, dari sempitnya kehidupan dunia kepada kelapangannya, dari ketidakadilan agama-agama yang ada kepada keadilan Islam.”  
 
Dari riwayat tersebut, sangat jelas bahwa Islam memandang kemerdekaan bukan dari satu sisi saja, melainkan dari semua sisi, baik lahiriyah maupun batiniyah, yakni kemerdekaan atau bebas dari penghambaan kepada selain kepada Allah swt.    
 
Pada prinsipnya, manusia pada hakikatnya adalah hamba Allah swt. Status sebagai hamba Allah, selalu kita ikrarkan pada setiap bacaan doa iftitah. 
“…Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku 
hanya untuk Allah Tuhan seluruh alam.” 
 
Dari bacaan do’a iftitah ini ada empat bentuk kemerdekaan yang telah kita ikrarkan, yakni shalat, ibadah, hidup dan mati yang semuanya diserahkan pada Allah swt Sang Pemilik Kehidupan.
 
Dengan istilah lain, ketika seseorang yang hatinya tidak berdaya, masih dikuasai ikatan hawa nafsu, kemudian dia lebih menaati hawa nafsunya dari pada menaati Rabb-nya, sesungguhnya manusia pada kondisi ini belum merdeka, karena dirinya masih dijajah oleh hawa nafsu. 

Sebaliknya, ketika seorang hamba merdeka dari jajahan godaan setan serta balatentaranya, berarti ia telah diberikan Allah ta'ala kemerdekaan dan kebahagiaan. Bahkan diberikan Allah ta’ala berupa kebaikan wafat yang husnul khatimah yang bermuara kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
 
Saudaraku rahimakumullah!
Berdasarkan pada keterangan di atas, sudah saatnya masyarakat Indonesia, terkhusus kaum muslimin untuk selalu waspada terhadap para penjajah yang selalu mengintai manusia itu sendiri. Pada kesempatan hari ini, khatib akan menyampaikan tiga jenis penjajahan yang mengintai manusia, dengan harapan setelah memahami ini, kita selalu semangat mengisi kemerdekaan Indonesia. 
 
Pertama, penjajahan dari iblis dan setan.
Iblis dan setan adalah penjajah yang paling berbahaya bagi manusia. Keduanya, Iblis dan setan adalah makhluq Allah swt yang memiliki visi dan misi untuk menyesatkan manusia dari jalan hidayah dan Islam. Iblis selalu menggoda manusia, dimulai dari diciptakannya Nabi Adam 'alaihissalam hingga hari kiamat nanti.
 
Hal ini dijelaskan dalam surat Al A'raf ayat 17: 
“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A’raf : 17).  
 
Pada surat al A'raf ayat 17 di atas, secara tegas Allah swt menjelaskan bahwa iblis dan setan akan mengerahkan berbagai macam cara untuk menggelincirkan manusia dari jalan kebaikan. Akhirnya manusia akan terperangkap dengan bujuk rayu iblis dan setan, kecuali mereka yang pandai bersyukur dan taat kepada perintah Allah swt. Bahkan begitu dahsyat godaannya, iblis dan setan mampu menyusup melalui pada aliran darah manusia. Dan salah satu untuk mempersempit geraknya adalah dengan taat kepada Allah swt.
 
Kedua, penjajah manusia yang tidak kalah bahayanya adalah hawa nafsu.
Setiap manusia memiliki hawa nafsu. Kewajiban manusia adalah mengendalikan hawa nafsu agar nafsu menjadi dasar atau pendorong untuk melakukan berbagai macam kebaikan. Nafsu tidak bisa dihilangkan, tetapi harus dikendalikan agar membawa manfaat, terhindar dari keburukan dan kebinasaan.
 
Allah swt berfirman dalam surat Yusuf ayat 53:
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yusuf [12]: 53).
 
Artinya jika manusia mampu mengendalikan nafsu, niscaya nafsu-nafsu itu akan menjadi nafsu muthmainah, yaitu nafsu yang dapat dikendalikan oleh akal yang sehat dan hati yang jernih. Nafsu ini akan mendapat rida Allah swt, mengantarkan kepada  kebaikan dan mendapatkan husnul khatimah di akhir hidupnya sebagai pintu menuju surga Allah 
 
Di dalam Al-Quran, sudah diceritakan beberapa kisah kehinaan dan kejatuhan manusia yang disebabkan karena menuruti hawa nafsunya. Diantaranya adalah kisah Raja Fir’aun. Raja Fir'aun diberikan kekuatan dan kekuasaan memimpin rakyatnya. Selama hidupnya, Firaun memiliki tubuh yang sehat dan bugar tanpa pernah mengalami sakit. Namun sayang, hidupnya tidak merdeka. Raja Fir’aun hidupnya dikendalikan hawa nafsu yang mendorong dirinya bertindak kejam. Bahkan dirinya menganggap Tuhan.  
 
Begitu juga dengan Qarun, yang dikuasai hawa nafsu berupa harta yang membuatnya dirinya bakhil dan kufur nikmat. Akhirnya Allah murka dan menenggelamkan Qarun beserta harta kekayaannya dan para pengikutnya ke dalam tanah. Begitu juga dengan kaum Nabi Luth yang dikuasai hawa nafsu menyimpang. Hingga kemudian Allah swt murka dan menurunkan kepada mereka adzab-Nya disebabkan karena mereka memperturutkan hawa nafsunya dan tidak taat kepada Allah Sang Khaliq.
 
Ketiga, penjajah yang menghantui manusia adalah hubbuddunya  wakarahiyyatul maut.
Hubbddun-ya adalah kecintaan terhadap dunia berlebihan sampai lupa dengan kehidupan akhirat.  Sedangkan wakarahiyyatul maut adalah perasaan takut atau kebencian terhadap kematian sehingga orang akan berusaha sekuat tenaga akan mencari kebahagiaan sesaat di dunia. Apa pun dilakukan demi mendapatkan kebahagiaan di dunia, tidak peduli aturan Allah ta’ala, halal haram semuanya tidak pernah dihiraukan. Akhirnya manusia tersebut meninggalkan kewajiban ibadah.
 
Kebencian terhadap kematian bila sudah sampai taraf semacam ini akan menyebabkan kualitas muslim semakin lemah dan memudahkan para penjajah orang-orang kafir memerangi kaum Muslimin dan merampas negara dan harta kekayaannya. Akhirnya hidupnya terjajah. Tidak mampu merasakan menjadi insan yang merdeka. Hidupnya seperti diperbudak dunia. Diberikan harta, kekayaan dan jabatan, perasaannya selalu kurang. Tidak pernah merasa cukup.

Marilah di momentum Kemerdekaan RI yang ke 78 tahun ini, kita kembali semangat berjuang agar kita menjadi manusia yang merdeka. Terbebas dari penjajahan hawa nafsu, terbebas dari belenggu iblis setan dan terbebas dari perliaku cinta dunia berlebihan dan takut kematian, sehingga kita dapat membangun bangsa tercinta Indonesia dengan amanah dan tanggung jawab menuju negeri baldatun thayyibatun warabbun ghafuur.
 
Aamiin Yaa Rabbal’alamiin. */
Mohamad Mufid, M. Pd.I (Ketua PD IKADI Kota Prabumulih Sumatera Selatan)


Ayo Berpuasa! Mengenal Puasa Wajib dan Sunnah

www.sditarrahmahlumajang.sch.id - Puasa adalah satu ibadah yang harus dilakukan bagi umat muslim. Ada puasa yang diwajibkan, ada juga yang disunnahkan. Puasa wajib misalnya puasa Ramadhan. Selain puasa di bulan Ramadan, ada juga puasa wajib yang lain. Puasa sunnah misalnya puasa hari Senin dan Kamis.

 


 

 Saum atau puasa bagi orang Islam adalah menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan syarat tertentu, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim. Allah Swt. berfirman pada surah al-Baqarah ayat 183.

 يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Dari ayat di atas menjelaskan bahwa hukum puasa Ramadan adalah wajib. Maka, sebagai hamba Allah Swt. kita harus melaksanakan perintah tersebut lillahi ta'ala. Lafal (takwa) dalam ayat tersebut di awali dengan lafal (supaya) yang memberikan penjelasan bahwa ibadah puasa itu mampu menghadirkan ketakwaan jika kita berpuasa dengan sungguh-sungguh dan berniat ikhlas karena Allah. Sebaliknya, jika tidak sungguh-sungguh dalam berpuasa maka hanya mendapatkan haus dan dahaga tanpa memperoleh takwa, Rasulullah saw bersabda, "Berapa banyak orang yang berpuasa. hanya mendapatkan dari puasanya rasa lapar dan haus saja...." (HR. Albani No. 1084) 


A. Puasa Wajib

1. Puasa Ramadhan

Dalam bahasa Arab kata Ramadan berasal dari kata Ramada yang berarti panas yang membakar, seperti api yang membakar apa saja yang didekatnya. Pada bulan Ramadan Allah Swt. menjanjikan sebagai sarana membakar dosa-dosa orang yang melaksanakan ibadah di bulan tersebut. 

 

Syarat Wajib Puasa Ramadan

Di bawah ini adalah syarat wajib untuk menjalankan puasa Ramadan yang baik dan benar.

a. Beragama Islam.
b. Telah melalui masa balig atau telah mencapai umur dewasa
c. Mempunyai akal.  
d. Sehat jasmani dan rohani.
e. Bukan seorang musafir atau sedang melakukan perjalanan jauh.
f. Suci dari haid dan nifas.
g. Mampu atau kuat melaksanakan ibadah puasa. 

Syarat wajib puasa Ramadan di atas harus dipenuhi untuk menjalankan puasa Ramadan. Balig atau telah mencapai umur dewasa menjadi salah satu syarat, namun anak-anak harus mulai belajar berpuasa dan belajar amalan-amalan dalam puasa Ramadan. 

 

Hikmah Puasa Ramadan 

Manfaat dalam menjalankan ibadah puasa selain untuk kesehatan, ibadah puasa juga memiliki hikmah yang banyak yaitu sebagai berikut.

a. Melatih kesabaran.
b. Membentuk akhlak yang baik. 
c. Kondisi fisik menjadi sehat.
d. Menimbulkan rasa syukur.
e. Meningkatkan ketakwaan dalam diri seseorang.
f. Membersihkan diri dari dosa. 

g. Membiasakan diri hidup hemat.

 

2. Puasa Nazar 

Puasa nazar wajib dilakukan apabila seseorang bernazar atau berjanji untuk melakukan puasa, baik satu hari atau satu bulan. Sebagai contoh, seseorang berjanji sengan mengatakan, "Apabila aku berhasil dalam ujian, maka aku akan melaksanakan puasa." Secara bahasa, nazar adalah aujaba yang artinya mewajibkan. Oleh karena itu, ketika seseorang bernazar untuk puasa, berarti dia telah mewajibkan puasa tersebut atas dirinya. 

 

3. Puasa Kifarat/Kafarat 

Secara bahasa kafarat artinya mengganti, menutupi, membayar, dan memperbaiki. Kafarat harus dilaksanakan oleh sesesorang yang telah melakukan kemaksiatan yang mengharuskannya membayar kafarat. Di antara contoh kemaksiatan tersebut antara lain membunuh karena kesalahan, membatalkan sumpahh, membatalkan puasa Ramadhan karena melakukan hubungan suami istri pada siang hari, dan zihar (menganggap istri seperti ibunya).
 

4. Puasa Qadha Ramadhan 

Qadha berarti memenuhi, melaksanakan, membayar, atau melunasi. Terkait puas, qadha berarti mengganti kekurangan hari dalam puasa wajib di bulan Ramadhan ketika seseorang tidak bisa melakukannya dengan sempurna karena ada halangan atau uzur yang diperbolehkan oleh syara'. Seperti sakit dan bepergian. 

Sebagaimana Allah SWT berfirman:

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ - ١٨٤ 

Artinya: "(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al Baqarah: 184)

B. Puasa Sunah

Ada berbagai macam puasa sunah yang utama untuk dijalankan. Puasa sunah merupakan ibadah yang dicontohkan Rasulullah saw.. Meskipun hukumnya dianjurkan untuk dilakukan di waktu- waktu tertentu, puasa sunah tidak boleh dilakukan berturut-turut tanpa berbuka sama sekali (dilakukan setiap hari). Jika puasa Ramadan hukumnya wajib dan merupakan ibadah inti, maka puasa sunah adalah ibadah pelengkap. Sama dengan salat wajib yang dilengkapi şalat sunah.

Puasa sunah tidak wajib dilakukan namun memiliki banyak keutamaan bagi yang melaksanakannya. Puasa sunah bermacam-macam, antara lain sebagai berikut.

1. Puasa Senin Kamis 

Ibadah puasa sunah yang paling umum dan paling sering didengar adalah puasa Senin Kamis. Puasa yang dilaksanakan setiap hari Senin dan Kamis merupakan ibadah puasa sunah yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah saw.. Rasulullah saw. pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab, "Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku." (H.R. Muslim No. 1978)

Keutamaan puasa di hari Senin dan Kamis disebutkan dalam hadis yang artinya "Pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Setiap hamba yang tidak berbuat syirik pada Allah sedikit pun akan diampuni (pada hari tersebut) kecuali seseorang yang sedang bermusuhan atau memiliki masalah dengan saudaranya. Kelak akan dikatakan pada mereka, 'Akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai." (H.R. Muslim No. 4653)

2. Puasa Daud

Ibadah ini dicontohkan oleh Nabi Daud a.s. dan juga dilakukan oleh Rasulullah saw.. Caranya yakni dengan melakukan selang-seling dalam berpuasa (sehari berpuasa dan sehari tidak). Puasa Daud juga merupakan ibadah puasa sunah yang paling disukai Allah Swt... Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik şalat di sisi Allah adalah şalatnya Nabi Daud a.s.. Dan sebaik-baik puasa di sisi Allah adalah puasa Daud. Nabi Daud dulu tidur di pertengahan malam dan beliau şalat di sepertiga malamnya kemudian tidur lagi di seperenamnya. Sedangkan puasa Daud adalah puasa sehari dan tidak berpuasa di hari berikutnya." (H.R. Bukhari no. 1843)

3. Puasa Syawwal

Seperti namanya, puasa sunah ini adalah puasa yang dilakukan di bulan Syawwal (setelah bulan Ramadan). Puasa Syawwal dilakukan sebanyak 6 hari, boleh berturut-turut dan boleh tidak berurutan. Salah satu keutamaan puasa Syawwal disebutkan dalam hadis yang artinya "Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka pahala yang dia dapatkan seperti orang yang berpuasa setahun penuh." (H.R. Ibnu Majah No. 1706)

 

4. Puasa Ayyamul Bidh

Ibadah sunah lain yang diajarkan oleh Rasulullah saw. adalah puasa yang dikerjakan sebanyak 3 hari di bulan Hijriyah, Puasa yang dikenal dengan nama Ayyamul Bidh ini dilakukan setiap tanggal 13, 14, dan 15. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang artinya Dari Ibnu Milhan Al-Qoisiy, dari ayahnya, ia berkata, "Rasulullah saw. biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah)." Dan beliau bersabda, "Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun," (H.R. Nasa'i No. 2377) 

 

5. Puasa Zulhijjah

Puasa Zulhijjah merupakan ibadah puasa sunah yang dilakukan sebanyak 10 hari di bulan Zulhijjah. Puasa ini dilakukan sebanyak 9 hari pertama di bulan Zulhijjah. Di hari kesepuluh yang bertepatan dengan pelaksanaan hari raya kurban, kita hanya diminta untuk berpuasa hingga selesai melaksanaan şalat hari raya. Setelahnya, kita tidak diperbolehkan melanjutkan puasa karena hukumnya menjadi haram.

Keutamaan puasa Zulhijjah dijelaskan dalam hadis yang artinya, "Tidak ada hari-hari yang lebih disukai Allah untuk dipakai beribadah lebih dari sepuluh hari pertama di bulan Zulhijjah. Berpuasa pada siang harinya sama dengan berpuasa selama satu tahun dan şalāt pada malam harinya sama nilainya dengan mengerjakan salat pada malam lailatul qadar." (H.R. Ibnu Majah No. 1717)

6. Puasa Arafah

Puasa Arafah berhubungan langsung dengan puasa Zulhijjah karena dilaksanakan pada hari kesembilan di bulan Zulhijjah atau menjelang hari raya 'Idul Adha. Dinamakan puasa Arafah karena di hari tersebut umat Islam yang berhaji sedang melaksanakan ibadah wukuf di Arafah. Puasa Arafah memiliki satu keistimewaan yang sangat besar yakni dihapuskan dosanya setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis di bawah ini.

Diriwayatkan oleh Abu Qatadah Al-Anshari r.a., "Dan Rasulullah saw. ditanya tentang berpuasa di hari Arafah. Maka, Rasulullah bersabda, 'Puasa ini dapat menebus dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang." (H.R. Ibnu Majah 1721)

7. Puasa Asyura

Puasa Asyura adalah puasa sunah yang dilaksanakan tanggal 10 di bulan Muharram. Keutamaan puasa Asyura dijelaskan dalam hadis yang artinya Rasulullah saw. bersabda, "Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu." (H..R. Ibnu Majah 1728)

 

8. Puasa Muharram

Puasa Muharram merupakan sebutan untuk semua ibadah puasa sunah yang dilakukan pada bulan Muharram. Pada zaman dahulu, orang Yahudi dan Nasrani juga melakukan puasa setiap tanggal 10 Muharram. Agar tidak sama dengan ibadah mereka, Rasulullah menganjurkan umat Islam untuk mengiringi puasa Asyura dengan puasa tambahan sehari sebelum atau sesudahnya. Ini merupakan bagian dari puasa Muharram. Keistimewaan berpuasa di bulan Muharram dijelaskan dalam hadis berikut, "Puasa Muharram adalah puasa yang paling utama setelah puasa di bulan Ramadan." (H.R. Muslim No. 1983)

9. Puasa Sya'ban

Bulan Sya'ban adalah bulan yang istimewa karena setelahnya umat Islam menyambut datangnya Ramadan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah tidak banyak berpuasa di bulan-bulan lain kecuali bulan Sya'ban. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi No. 726 disebutkan, "Bulan Sya'ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Tuhan semesta alam. Karenanya, aku suka berpuasa saat amalanku dinaikkan ke hadapan-Nya."

10. Puasa di Bulan-bulan Haram 

Bulan-bulan haram adalah bulan yang dihormati. Di bulan-bulan tersebut kita dianjurkan untuk melakukan ibadah sebanyak- banyaknya, termasuk berpuasa. Adapun yang termasuk kategori bulan haram adalah Zulqa'dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab.

 

📢 Wawasan

Pada bulan Ramadan terdapat malam istimewa yang disebut malam lailatul qadr. Malam tersebut adalah malam terbaik daripada malam seribu bulan. Allah Swt. berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 185 yang artinya, "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,..." 

 

📚 Kisah Inspirasi

Rasulullah dan Puasa Senin Kamis


Pada hari Senin dan Kamis, amalan-amalan diperlihatkan (dilaporkan) kepada Allah Swt. Maka betapa beruntungnya ketika saat itu seorang hamba sedang berpuasa. Rasulullah saw. bersabda, "Diperlihatkan amal-amal pada setiap hari Kamis dan Senin. Maka aku ingin amalku diperlihatkan saat aku berpuasa. (H.R. Tirmidzi No. 678)

Diperlihatkan amal-amal pada setiap hari Kamis dan Senin. Maka, Allah pada hari itu mengampuni setiap orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali orang yang bermusuhan dengan saudaranya. Maka dikatakan, "Biarkan keduanya hingga berdamai, biarkan keduanya hingga berdamai." (H.R. Muslim No. 4652)

Abu Hurairah berkata, Nabi saw. lebih sering pada hari Senin dan Kamis. Lalu ada sahabat yang bertanya tentang hal itu. Maka Rasulullah menjawab, "Sesungguhnya seluruh amal akan dipersembahkan pada setiap hari Senin dan hari Kamis. Lalu Allah mengampuni setiap muslim atau setiap orang mukmin kecuali orang yang bermusuhan. Sebab Allah berfirman, Tangguhkanlah amal kedua orang itu." (H.R. Darimi No. 1685)

 

Sumber :

  1. Al-Qur'an Syamil dan terjemahannya. PT. Sygma Examedia Arkanleema.
  2. Syafiur-Rahman, Syaikh. 1998. Sirah Nabawiyah. Jakarta : Pustaka Kautsar.
  3. Tri Nugroho. 1441H/2020 M. Bina Pribadi Islami tingkat dini seri 6A.Surakarta : JSIT Publishing Indonesia.
  4. https://mediaindonesia.com/humaniora/559182/mengenal-empat-macam-puasa-wajib-dalam-islam




Desain Oleh Masnur Masnur Belajar | Spesial Buat SDIT Ar Rahmah