www.sditarrahmahlumajang.sch.id | SDIT Ar Rahmah — Jumat, 25 September 2026.
Belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Ada ilmu yang tumbuh ketika anak-anak menyentuh tanah, mengolah sampah, bekerja bersama, dan menyaksikan secara langsung bagaimana sesuatu yang dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Semangat itulah yang hadir dalam kegiatan Kokurikuler Tema Gaya Hidup Berkelanjutan yang dilaksanakan oleh SDIT Ar Rahmah pada Jumat, 25 September 2026, bertempat di halaman sekolah. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Tekung, yaitu Ibu Sri Widayati dan Ibu Catur Isa.
Kegiatan dirancang sesuai dengan karakteristik fase peserta didik. Fase C, yaitu kelas 5 dan 6, mendapatkan pengalaman belajar melalui kegiatan pembuatan eco-enzyme, sedangkan Fase B, yaitu kelas 3 dan 4, belajar memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk kompos sederhana.
🌿 Fase C: Mengubah Sampah Organik Menjadi Eco-Enzyme
Peserta didik kelas 5 dan 6 terlebih dahulu mendapatkan arahan dan penjelasan langsung dari narasumber BPP mengenai pemanfaatan sampah organik, khususnya sisa buah dan sayuran, sebagai bahan yang dapat diolah menjadi eco-enzyme.
Setelah mendapatkan pemahaman, peserta didik kemudian melakukan praktik secara berkelompok. Mereka belajar mengikuti tahapan pembuatan dengan penuh perhatian, bekerja sama, serta memahami bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar kegiatan membersihkan lingkungan, tetapi merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan kehidupan.
Melalui kegiatan ini, peserta didik diajak untuk melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda: bukan selalu sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi dapat menjadi sumber manfaat apabila dikelola dengan tepat.
🍂 Fase B: Belajar dari Sampah Organik di Lingkungan Sekolah
Sementara itu, peserta didik kelas 3 dan 4 memulai kegiatan dengan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Anak-anak diajak mengumpulkan sampah organik yang terdapat di halaman belakang sekolah.
Setelah sampah terkumpul, narasumber memberikan arahan mengenai jenis sampah organik dan bagaimana sampah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan pupuk kompos sederhana.
Peserta didik kemudian menyaksikan dan mengikuti praktik langsung pembuatan pupuk kompos yang dicontohkan oleh narasumber. Kegiatan sederhana ini menjadi pengalaman bermakna bagi anak-anak bahwa daun kering, sisa tumbuhan, dan bahan organik lainnya dapat kembali memberikan manfaat bagi tanah dan tumbuhan.
Kegiatan tersebut juga menumbuhkan karakter peduli lingkungan, tanggung jawab, gotong royong, disiplin, kreatif, dan mampu melihat peluang kebermanfaatan dari hal-hal sederhana.
🌱 Menanam Kepedulian, Memanen Kebermanfaatan
Kegiatan kokurikuler ini bukan hanya tentang bagaimana membuat eco-enzyme atau pupuk kompos. Lebih jauh, anak-anak sedang belajar sebuah nilai kehidupan: bahwa menjaga bumi adalah bagian dari rasa syukur kepada Allah atas amanah yang telah diberikan kepada manusia.
Allah Swt. berfirman:
«“...dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik...”
(QS. Al-A'raf: 56)»
Melalui pembelajaran yang kontekstual dan praktik secara langsung, peserta didik diajak untuk memahami bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari langkah-langkah kecil: memilah sampah, mengurangi limbah, memanfaatkan kembali sesuatu yang masih bernilai, serta menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Di balik tangan-tangan kecil yang mengumpulkan daun dan mengolah sampah organik, sesungguhnya sedang tumbuh generasi yang belajar menjadi khalifah yang bertanggung jawab terhadap bumi.
✨ “Jangan menunggu menjadi besar untuk memberi manfaat.
Mulailah dari hal kecil, dari tangan sendiri, dari lingkungan terdekat.
Sebab di hadapan Allah, kebaikan yang kecil sekalipun tidak pernah sia-sia.”
“Ketika anak belajar mengubah sampah menjadi manfaat, sesungguhnya ia sedang belajar mengubah kepedulian menjadi amal.”
Semoga kegiatan ini tidak berhenti sebagai pengalaman satu hari, tetapi menjadi kebiasaan yang terus tumbuh dalam keseharian peserta didik. Dari sekolah, dari rumah, dan dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan kesadaran.
Karena menjaga bumi bukan sekadar tentang lingkungan. Ia adalah tentang amanah, syukur, dan warisan kebaikan untuk generasi berikutnya.
SDIT Ar Rahmah - Tumbuh dalam Iman, Peduli Lingkungan, Menginspirasi dalam Kebaikan.***






















